pilarbalinews.com

Today: 24 May 2026

Triwulan I 2026, Harga Properti Residensial Bali Tumbuh Terbatas

Bank Indonesia Provinsi Bali melakukan Survei Harga Properti Residensial (SHPR), di mana mengindikasikan harga properti residensial di pasar primer pada triwulan I 2026 mengalami pertumbuhan yang terbatas.

“Hal ini tercermin dari Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan I 2026 yang tumbuh sebesar 0,87% (yoy), melambat dibandingkan periode triwulan IV 2025 sebesar 1,06% (yoy),” Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani, Selasa (19/5/2026).

Tumbuhnya IHPR Provinsi Bali ditopang oleh kenaikan harga di 3 (tiga) jenis properti yaitu kecil (luas bangunan ≤36 m2), menengah (luas bangunan antara 36 m2 sampai dengan 70 m2), dan besar (luas bangunan > 70 m2) yang masing-masing meningkat sebesar 1,16% (yoy), 0,97% (yoy), dan 0,71% (yoy).

Pada triwulan I 2026, pertumbuhan IHPR terutama dipicu oleh kenaikan harga bangunan yang dipengaruhi oleh peningkatan biaya faktor produksi.

BACA JUGA  Semarak Penutupan Bulan Bung Karno Ke-VII 2025, Koster Ajak Generasi Muda Tak Alergi Politik

“Sama seperti periode sebelumnya, sebagian besar responden menilai bahwa lonjakan harga bahan bangunan dan peningkatan upah tenaga kerja merupakan faktor utama pendorong kenaikan harga rumah,” imbuh Achris Sarwani.

Efek perang di Timur Tengah turut memicu peningkatan harga minyak yang memengaruhi peningkatan biaya distribusi bangunan.

“Kenaikan harga bangunan juga dipengaruhi pelemahan nilai tukar Rupiah yang menyebabkan harga sejumlah bahan bangunan impor menjadi lebih mahal. Di sisi lain, di tengah tren kenaikan harga properti, para pengembang di Bali memandang sejumlah faktor masih menjadi tantangan dalam penjualan properti residensial primer,” beber Achris Sarwani.

Beberapa hambatan utama tersebut meliputi tingginya suku bunga KPR, keterbatasan ketersediaan lahan, beban pajak, serta besarnya uang muka pembelian rumah.

BACA JUGA  𝗕𝗶𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗧𝗶𝗺𝗻𝗮𝘀 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮 𝗖𝗮𝗹𝘃𝗶𝗻 𝗩𝗲𝗿𝗱𝗼𝗻𝗸 𝗚𝗮𝗯𝘂𝗻𝗴 𝗟𝗶𝗹𝗹𝗲

“Dari sisi pembiayaan, survei menunjukkan bahwa sumber utama pendanaan untuk pembangunan properti residensial di Bali masih bersumber dari dana sendiri (developer) dengan pangsa sebesar 56,6%, diikuti oleh pinjaman bank, dana nasabah, serta pinjaman Lembaga Keuangan (LK) non bank, masing-masing sebesar 35,3%, 5,9%, dan 2,2%. Dari sisi konsumen, skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih memiliki porsi terbesar atas pembelian rumah dengan porsi sebesar 84,2% dari total pembiayaan,” tutup Achris Sarwani. PBN001.

Ket Foto Ist: Survei Harga Properti Residensial (SHPR), mengindikasikan harga properti residensial di pasar primer pada triwulan I 2026 mengalami pertumbuhan terbatas.

@pilar_bali_news

@pilarbalinews

Pilar Bali News