Pameran Seni Rupa Himpunan Perupa Payangan, dengan tajuk ‘Udhar Banda Karma’, dibuka resmi di Santrian Art Gallery, pada Jumat (18/9/2026).
Salah satunya, perupa I Ketut Sunama, menampilkan dua karya, yaitu figur Budha dan lukisan bentuk naga, sebagai bentuk perjalanan menuju kesempurnaan batin di tengah chaos dan informasi tumpang tindih, warna-warna di tampilkan ini saling bertabrakan. Dari itu, ia mencoba menata kembali warna-warni menjadi sebuah keindahan dengan sentuhan khas.
Karya pertama ditampilkan berbentuk Buddha, yang menurut keyakinannya dapat diterima berbagai pihak lokal dan internasional. Dimaknai sekecil apapun perbuatan kita di dunia ini, kebaikan itu tidak akan pernah sia-sia.
“Figur Buddha menjadi perjalanan menuju kesempurnaan batin. Tubuhnya tidak dibentuk oleh garis dan anatomi manusia semata, tetapi tersusun dari kelopak-kelopak teratai simbol kesucian, kebijaksanaan, dan kebangkitan kesadaran,” ungkap Sunama asal Banjar Semaon, Desa Puhu, Kecamatan Payangan, Gianyar.
Lukisan Buddha berjudul ‘The Golden Gate’, mencerminkan suatu perumpamaan bagaimana teratai dapat tumbuh dari lumpur.
Teratai ini tumbuh dengan akarnya di dalam air yang keruh dan tempat yang kotor. Menariknya, teratai mampu muncul ke permukaan dengan indah dan tanpa ada noda.
“Sebagaimana kehidupan manusia bahwa kebijaksanaan tidak selalu lahir dari keadaan sempurna. Sebaliknya, dari kekacauan, penderitaan, keterikatan, pengalaman hidup yang penuh dengan noda, kesadaran dapat perlahan-lahan tumbuh,” ujar Sunama.
Kebajikan-kebajikan kecil dan kebijaksaan direpresentasikan dari kelopak tubuh Buddha.
“Kita menampilkan sebuah tindakan sederhana, sebuah kesadaran kecil atau secercah kebijaksanaan dapat menjadi bagian penting di dalam membentuk kesempurnaan diri,” harapnya.

Lukisan Kedua, berjudul ‘Awakening Dragon’, yang mengambil anatomi naga merah, dengan sisik naga berisi perpaduan warna-warni bercorak khas. Lewat lukisan Awakening Dragon, ia menunjukkan jiwa berkeseniannya menjadi bangkit dari seni, tradisi, lalu mencari inspirasi untuk memperluas wawasan pengetahuan diri sendiri.
“Saat kita berada dalam kondisi berantakan apapun, kondisi kita adalah hanya bisa menerima, mengamati dan berbuat. Kita lihat diri kita, apa yang bisa diterima diri kita, lalu mengobservasi dan memperbaikinya,” katanya.
Ketua Perhimpunan Perupa Payangan, I Made ‘Dollar’ Astawa mengungkapkan rasa syukurnya atas penyelenggaraan pameran untuk 38 perupa asal Payangan ini.
“Pameran kolektif Himpunan Perupa Payangan bertajuk ‘Udhar Banda Karma’ ini dapat terwujud dan terselenggara dengan baik di Santrian Art Gallery, Sanur, sebagai tonggak sejarah bagi komunitas kami. Jika sebelumnya di Ubud kami fokus menyalakan energi internal lewat filosofi ‘Bayu-Idep-Karma’, maka di Sanur kami memberanikan diri melangkah jauh melakukan laku Udhar Banda Karma. Mengurai belenggu pakem, melonggarkan ruang kreativitas, dan mendobrak batas geografis demi masa depan seni rupa kami,” harap Dollar Astawa.
Owner Santrian Gallery Ida Bagus Gede Agung Sidharta Putra, M.BA., mengungkapkan sangat mengapresiasi pameran kolektif Himpunan Perupa Payangan bertajuk ‘Udhar Banda Karma’.
“Sanur sejak awal abad Ke-20 telah menjadi ruang hibriditas dan keterbukaan seni rupa modern, kini menjadi saksi bagaimana para perupa Payangan melakukan laku Udhar, mengurasi, melonggarkan dan membebaskan kreativitas mereka dari keterikatan pakem tradisional. Merawat tradisi bukan berarti memenjarakan diri, melainkan membiarkannya tumbuh, bertransformasi dan relevan dengan zaman,” katanya.
Ditambahkan Wakil Bupati Gianyar, Anak Agung Gde Mayun, SH., bahwa Himpunan Perupa Payangan menjadi pelopor pelestarian seni rupa di Gianyar dan semoga komunitas-komunitas lainnya dapat mengikutinya, serta berkembang bersama.
“Himpunan Perupa Payangan saya harapkan dapat terus mengembangkan diri, sehingga Gianyar dengan potensi anak mudanya dapat mengikuti jejak senior sebelumnya. Setiap tahun Pemkab Gianyar juga rutin memberikan penghargaan terhadap para seniman-seniman, seperti di Hari Kemerdekaan RI. Kita jaga dan kembangkan bersama seni rupa di Gianyar, untuk bisa berkembang pesat ke depannya,” tandasnya. PBN001