Skip to main content

pilarbalinews.com

Today: 24 August 2026

Kredit Karbon Tak Rusak Tanaman Kopi, Edukasi Sasar Ibu Rumah Tangga di Desa Catur Kintamani

Ket Foto: Suasana kegiatan ‘Coffee Carbon, The Hidden Value’, Coop Coffee Foundation’, menyasar ibu-ibu rumah tangga di Desa Catur Kec. Kintamani, Bangli, Jumat (21/8/2026).

Sosialisasi perdagangan karbon dari kopi dan hutan Kintamani, diadakan Coop Coffee Foundation bersama Heal Bumi berlokasi di Desa Catur, Kintamani, Bangli, Jumat (21/8/2026).

Gillar Prakoso selaku Founder Heal Bumi memaparkan topik utama mengenai Nilai Ekonomi Karbon (NEK) untuk selaras dipahami masyarakat di Desa Catur, Kintamani. Apalagi areal perkebunan kopi di Kintamani, telah dikelilingi hutan lindung dan hutan wisata.

Semula perdagangan kredit karbon kepada masyarakat secara luas masih sulit dipahami, namun perlahan-lahan sejumlah ibu-ibu Desa Catur, menunjukkan kritis dan terbuka terhadap peluang perdagangan karbon ini.

“Pengukuran kredit karbon bergantung dari realisasi tanaman yang dihasilkan petani di lahannya sendiri, tanaman pohon ini secara sederhana bertujuan untuk reboisasi atau perindang di lahan yang dikelola petani. Kredit karbon bertujuan untuk menghitung luasan penghijauan yang dicapai petani,” ungkap Gilar, dalam kegiatan ‘Coffee Carbon, The Hidden Value’, Coop Coffee Foundation’, di kediaman Perbekel Desa Catur.

Diutarakan Gilar bahwa yang diperjualbelikan adalah kemampuan menanam pohon untuk dapat menyerap karbon. Misalnya 1 ton sama dengan 1 kredit karbon. Ini memang tidak ada barang fisiknya, tapi pohonnya semakin banyak dan rindang.

“Semakin banyak kita menanam pohon dan rindang untuk menyerap karbon, itu artinya semakin banyak kita menyerap potensi penghasilan. Petani tidak rugi apa-apa, di mana yang membayar karbon ini adalah perusahaan-perusahan besar baik di bidang kelistrikan, pertambangan, perminyakan, hingga pabrik besar di dunia. Sedangkan masalah berapa kredit karbon, tergantung dari fluktuasi harga karbon itu sendiri, seperti harga saham begitu yang berubah-ubah. Tapi, untuk di Indonesia berkisar sekira 1 kredit karbon seharga Rp23.000 – Rp25.000,” kata Gilar.

BACA JUGA  Kolaborasi ITB STIKOM Bali Libatkan TikTok Shop dan Tokopedia, Tekankan Program Waktunya START Academy

Anas Setiawati selaku Ketua Desa Ayah Catur, Kec. Kintamani, Kab.  Bangli menuturkan semula ibu-ibu di Desa Catur tidak mengetahui apa itu perdagangan karbon. Anas dan ibu-ibu lainnya hanya menebak-nebak perdagangan karbon sesuai versi masing-masing. Namun, usai memperoleh pemahaman dari Heal Bumi, terjadi satu persepsi tentang perdagangan karbon.

“Semenjak tadi dijelaskan kami paham. Ternyata, inti sederhananya yang kami ambil adalah bagaimana kita bisa mengadakan penghijauan di kebun kita, kita bisa membuat kebun kita bagus. Jadi kita juga belajar untuk ke depannya. Perdagangan karbon yang saya simpulkan adalah gimana kita merawat, jadi kita mendapatkan imbalan,” ujarnya.

Anas menambahkan apabila dapat dikelola di sela-sela tanaman kopi dilakukan tanaman pohon enau, tanaman kopi yang lebih sehat juga memiliki nilainya, kayu yang dapat menjadi arang, menjaga mata air, mengolah kulit kopi, dan lainnya.

“Hasilnya nanti akan diukur, itu menjadi kredit karbon yang memiliki nilai. Jangan sampai komoditas utamanya dikorbankan (Kopi). Penggunaan pupuk secara organik, tidak kimia, karena pupuk kimia bisa merusak tanah,” ungkapnya.

Sementara itu, Sascha Poespo, Program Manager Blended Finance Scheme Coop Coffee Foundation mengutarakan sebenarnya perhitungan karbon sudah lama dilakukan, sehingga perlu edukasi dasar ke petani terkait pengelolaan karbon.

“Petani bertanya bagaimana perhitungan karbonnya setelah pohonnya ditanam dan semacamnya. Sehingga, kami ajak ibu-ibu di Desa Catur, yang sering berkecimpung di bidang penanaman kopi. Lewat proses ini, semoga petani ibu-ibu memperoleh bonus dari pengelolaan karbon ke depannya. Salah satunya tanaman kopi ini yang menjadi tanaman pertama dalam hal perdagangan karbon,” ucapnya.

BACA JUGA  Pelaku Begal Tante Jenna Diduga Diringkus, Beraksi Spontanitas di Jalanan

PROSES PENGUKURAN KARBON
Menurut Gillar Prakoso selaku Founder Heal Bumi, sangat penting pengetahuan dasar perdagangan karbon yang menyasar ibu-ibu di Desa Catur, Kec. Kintamani, Kab. Bangli, utamanya dalam memahami perhitungan kemampuan suatu lahan menyerap karbon dioksida, yang diperjual belikan adalah kredit karbon istilahnya.

“Misalnya, 1 ton karbon dioksida dihitung menyerap 1 kredit karbon, itu yang diperdagangkan. Harganya juga sesuai bursa karbon OJK dan pasar internasional, jadi mirip harga pasar saham. Konsumennya, mereka yang menyumbang karbon negatif ke alam, seperti fosil, batubara, perkapalan, baja, kereta api, pesawat, listrik dan lain-lainnya. Ada pajak karbonnya juga nanti,” terangnya lagi.

Gilar menuturkan pengukuran karbon dilakukan di areal lahan kopi, mangrove dan ekosistem lainnya. Tim turun ke lapangan mengecek kepadatan tanaman di areal petanian atau perkebunan.

“Kalau kebun petani semakin hijau dan organik, maka hitungan keuntungannya akan semakin tinggi terkait kredit karbon. Kebun yang subur untuk penghijauan,”

Penerapan kredit karbon bekerja sama dengan Kemenkop RI, SQID, hingga masyarakat Desa Catur, Kec. Kintamani, Bangli.

“Daya serap karbon untuk mencegah polusi udara, di sisi lain petani sangat memperoleh keuntungan dari kredit karbon dihasilkan dari tanaman yang di tanam dan memperoleh imbalan,” tandas Gilar. PBN001

@pilar_bali_news

@pilarbalinews

Pilar Bali News