Pelantikan Made Muliawan Arya (De Gadjah) selaku Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Bali Periode 2026-2031, berlangsung hikmat di Wantilan DPRD Provinsi Bali, Jumat (10/7/2026).
De Gadjah dilantik resmi dengan disaksikan dan dihadiri langsung Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) HKTI, Dr. Sudaryono, B.Eng., M.M., MBA., yang juga merupakan Wakil Menteri Pertanian RI, dihadiri juga Gubernur Bali Wayan Koster, beserta ribuan anggota HKTI di Bali.
“Kita bersinergi untuk kepentingan Bali, bangsa dan negara,” ujar De Gadjah, dalam sambutannya di Wantilan DPRD Bali.

Menurut De Gadjah, dengan terpilih secara aklamasi, tentu saja HKTI akan berbuat lebih banyak ke masyarakat. “Jadi terima kasih. Ini amanah yang luar biasa, tanggung jawab yang luar biasa buat saya dan semua kawan-kawan HKTI, tentunya juga organisasi-organisasi tani, nelayan, peternak yang ada di Bali dan kita bisa berkolaborasi, bekerja sama untuk kepentingan tani, masyarakat nelayan dan petani,” ungkapnya.
Hal lainnnya, melalui dukungan Pemerintah Provinsi Bali, utamanya dari Gubernur Bali Wayan Koster, akan terdapat kolaborasi-kolaborasi untuk perkembangan HKTI di Bali.
“Kalau Pak Gubernur sudah A, semuanya A. Terima kasih Pak Gubernur untuk supportnya. Apapun nanti, Ketua Umum HKTI akan memberikan arahan penuh. Aspirasinya sampaikan kepada kami. Saya di sini menekankan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada saya, tentunya saya membutuhkan support dari semuanya. HKTI Bali sepakat tidak ada yang bekerja di balik meja, tapi harus banyak ada di kebun, sawah, pantai dan di lapangan. Supaya kita tahu kondisi petani, peternak, nelayan kita seperti apa sekarang,” terang De Gadjah.
Diterangkan Ketua DPN HKTI Dr. Sudaryono bahwa dengan pelantikan pengurus HKTI Bali periode 2026-2031, supaya terus bekerja keras untuk masyarakat.
“Kita kerja keras, kerja maksimal supaya tidak ada penyesalan di kemudian hari. Saya ingin ajak semua pihak agar tidak menyesal di kemudian hari, maka kita harus bekerja keras,” bebernya.
Sementara itu, dalam sambutannya, Gubernur Koster menyampaikan secara umum sektor pertanian di Bali berkembang cukup baik.
“Perhitungan kami, produksi kita mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Bali. Bahkan beberapa di antaranya ada yang surplus seperti beras, jagung, bawang merah dan cabai,” ujarnya.
Hanya saja, hingga saat ini Bali mengalami defisit dalam pemenuhan kebutuhan bawang putih sehingga masih mengandalkan import.
Menurut Gubernur Bali dua periode ini, kondisi itu terjadi karena masyarakat lebih menyukai bawang putih import, mengingat harganya lebih murah dibanding hasil produksi petani Bali.
Menyikapi hal ini, Pemprov Bali melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan terus mendorong perluasan area tanam bawang putih di sejumlah kabupaten seperti Bangli, Jembrana dan Karangasem.
“Saya terus dorong perluasan area tanam bawang putih. Kalau produksinya sudah cukup, kita bisa hentikan import,” imbuhnya.
Ditambahkannya, hal ini berkaitan dengan upaya mewujudkan kedaulatan pangan Bali. “Salah satu prioritas pembangunan Bali adalah upaya mewujudkan kedaulatan pangan,” tandasnya. PBN001