Ket Foto: Chef Alvin Tanudjaya meracik 15 bahan lokal, bawa cita rasa Nusantara ke panggung gelato dunia, Jumat (6/11/2026).
Gelato World Tour – Asian Gelatiere Individual Competition, melibatkan 10 peserta yang berkompetisi dan berkreasi membuat gelato, Jumat (6/11/2026) di Krista InterFood The Expo Connecting Foof & Beverage Business.
Terdapat 10 peserta antara lain: 1. Tran Quang Thinh (Vietnam); 2. Ho Nam Kay Sensei (Hongkong); 3. Ming Yue Tan (China); 4. David Auyong (Malaysia); 5. Hirotaka Sakai (Jepang); 6. Alvin Tanudjaya (Indonesia); 7. Pong Sapak Phuphet (Thailand); 8. Lung Hsien Tsai (Taiwan Chef Association); 9. Tae Yang Kim (South Korea); 10. Andre Soh (Singapore).
Peserta asal Indonesia Alvin Tanudjaya mengatakan kompetisi Gelato World Tour 2026, sangat menantang karena banyak diikuti para mantan pemenang Gelato. Mereka sudah berpengalaman dan mahir meracik bahan gelato, untuk menjadi menu baru berciri khas dan unik.
Tidak dipungkiri selama ini ajang kompetisi memasak es krim internasional kerap didominasi oleh negara-negara dengan tradisi kuliner mapan seperti Perancis, Jepang, dan Korea.
Namun, tantangan tersebut tidak menyurutkan langkah Chef Alvin Tanudjaya untuk membawa identitas rasa Nusantara ke panggung dunia.
Alvin merupakan perwakilan dari Latteria Gelato. Ia sukses mengamankan posisi sebagai juara seleksi tingkat nasional dan berhak mewakili Indonesia di ajang kejuaraan dunia gelato, dan apabila meraih juara akan bertanding lagi di Italia.
Bersaing ketat dengan mantan-mantan juara dunia, Alvin meracik sebuah mahakarya es krim yang sangat kompleks dengan menggabungkan 15 bahan lokal pilihan dari Sabang sampai Merauke.
Diungkapkan Alvin sebagai representasi Indonesia bahwa kekayaan bahan pangan lokal sangat beragam dan tidak cukup jika hanya diwakili oleh satu komponen tunggal seperti onde-onde atau klepon.
”Jadi kita harus me-represent Indonesia ya. Produknya itu kalau bisa dibilang Indonesia kan terlalu banyak. Kalau saya pilih satu, misalkan kue ape atau ongol-ongol dijadikan gelato, nanti teksturnya enggak dapat,” ujar Alvin saat ditemui di sela-sela kompetisi Gelato World Tour 2026.

Alvin memaparkan sejumlah kombinasi bahan-bahan lokal yang diracik menjadi satu dish kompleks, seperti Produk Susu: Menggantikan krim asal Perancis, ia menggunakan Dini Horbo dari Danau Toba, yakni susu kerbau yang difermentasi sehingga menghasilkan rasa yang dinilai lebih lezat.
Garam: Menggunakan Garam Kusamba asal Bali yang memiliki karakteristik rasa bersih (clean) dan minim rasa pahit dibandingkan garam meja biasa.
Situs Rasa Lain: Memadukan tiga jenis jeruk, yakni Kintamani dan kopi Kintamani, gula batu asal Klaten, serta black tea dan cokelat asal Kalimantan Timur.
Cokelat Hutan Berau: Di antara seluruh bahan yang digunakan, unsur cokelat menjadi salah satu elemen paling spesial sekaligus menantang.
Alvin menceritakan bahwa ia sempat bekerja sama dengan petani lokal untuk memanen biji cokelat di dekat kawasan daerah rawan kebakaran hutan di Berau, Kalimantan Timur.
Nahas, seminggu pasca-panen dan hanya menghasilkan 60 kilogram biji cokelat, seluruh pohon cokelat di wilayah tersebut habis terbakar.
Akibat insiden tersebut, produk yang nantinya akan ia tampilkan di Gelato World Tour adalah hasil panen terakhir dari Berau yang berhasil diselamatkan.
”Jadi kalau kita mau cobain cokelat ini lagi, kita harus tunggu 7 tahun lagi karena benar-benar habis,” ungkapnya.
Tantangan Ketat di Panggung Dunia
Dalam kompetisi tingkat dunia, Alvin harus menghadapi para kontestan dari negara-negara yang memiliki rekam jejak kuat, seperti Korea dan Jepang, yang dikenal memiliki standar eksekusi dan kualitas bahan baku yang sangat tinggi.
Setiap peserta diberikan waktu 1 jam untuk membuat dua jenis es krim, yakni es krim yang merepresentasikan negara asal serta mystery box, di mana peserta baru mengetahui bahan-bahan yang harus diracik satu menit sebelum kompetisi dimulai.
Meski persaingan di depan mata sangat berat, Alvin tetap optimistis bahwa racikan gelato berbasis kekayaan rempah dan bahan lokal ini mampu memikat hati para dewan juri internasional di Italia.
Sementara itu, salah satu juri asal Indonesia, Edwin Pangestu menuturkan penilaian kompetisi kuliner, baik rasa, tekstur dan konsistensi menjadi penentu point penilaian.

Edwin Pangestu mengatakan berdasarkan standar penjurian, terdapat dua faktor utama yang memegang porsi terbesar hingga 70 persen dalam menentukan kualitas hidangan. Dua faktor terbesar tersebut adalah rasa dan tekstur makanan, serta konsistensi penyajian.
”Nomor satu pasti dari rasa dan tekstur ya. Yang kedua, yang lumayan cukup besar itu kayak konsistensi. Konsistensi itu lebih ke begitu disajikan kondisinya kayak apa sih,” tuturnya.
Ia menjelaskan sebuah hidangan terkadang memiliki tekstur yang baik, tetapi saat disajikan kondisinya bisa berubah menjadi terlalu cair atau terlalu beku.
Oleh karena itu, konsistensi menjadi salah satu elemen krusial yang menyumbang persentase besar dalam penilaian.
Selain rasa, tekstur, dan konsistensi, aspek lain yang turut dinilai meliputi visual, penyajian verbal (verbal presentation), kreativitas, serta kesesuaian tema dengan bahan yang digunakan. Komposisi bahan, air, rasa manis, dan lainnya juga menjadi penilaian juri.
Kendati demikian, aspek kebersihan atau higienitas juga menjadi salah satu faktor penilaian yang tidak terpisahkan dalam setiap kompetisi kuliner. PBN001