Ket Foto: Wakil Ketua II DPRD Badung, Made Wijaya, SE., tekankan pengawasan kawasan pariwisata di Bali dari aksi kriminalitas.
Kawasan pariwisata yang terpusat di Legian, Kuta, Nusa Dua, Uluwatu, Canggu, dan sekitarnya ramai dikunjungi Wisatawan Mancanegara (Wisman) dan Wisatawan Domestik (Wisdom). Tamu yang berlibur sering menghabiskan waktu malam, salah satunya ke tempat-tempat hiburan.
Situasi ini kadang tidak berjalan mulus, sebaliknya dimanfaatkan oknum atau pelaku kriminalitas menyasar tamu-tamu yang mabuk sepulang dari diskotik.
Mereka menyatroni tas, uang dan kartu ATM, hingga berujung pengurasan ATM, bahkan kejadian ini kerap dilakukan berulang kali.
“Daerah tourism yang dibangun sudah tentu ada positif dan negatifnya. Menurut saya dengan fakta pengalaman di Bali ini, yang perlu dikurangi adalah masalah kriminalitas,” ujar Wakil Ketua II DPRD Badung, Made Wijaya, SE., Minggu (19/7/2026).
Melalui pandangan dan serapan aspirasi di masyarakat, Made Wijaya menelisik oknum pelaku yang beraksi di wilayah pariwisata, bahkan telah berulang kali masuk ke balik jeruji.
“Saya komentari soal oknum yang notabene-nya pekerjaannya menyatroni wisatawan. Itu yang sebenarnya lebih parah kalau menurut kajian saya. Ada loh satu daerah kita yang di Bali, saya tidak menyebut daerahnya. Tamu-tamu itu dicopet. Pelakunya orang-orang kita, diambil ATM-nya dan dikuras. Setelah mereka (tamu) datang dari diskotek. Itu ada job/pekerjaan yang dia (oknum) lakukan dan ada komunitasnya,” terang politisi asal Partai Gerindra ini.
Dari penggalian informasi dan diskusi di lapangan, Yonda sapaan akrabnya menceritakan pengalaman beberapa kali di kejaksaan dan di pengadilan mereka (pelaku) sudah sering ditahan.
“Mereka di penjara, datang lagi, besok beraksi dan datang lagi, itu pekerjaan mereka. Nah, ini sebenarnya perlu kita diketatkan bersama. Saya di Komisi II DPRD Kabupaten Badung, dari dulu sudah bicarakan ini karena saya pengalaman di Lapas 1 tahun. Saya saling cerita dan tanyakan, apa sih pekerjaannya. Kerjaanya katanya gitu aja, kerjanya mereka nyatroni tamu, curi ATM tamu. Apalagi sekarang, sudah menjamah (pelaku) orang Bali,” katanya.
Yonda berharap supaya jajaran Polres Badung, Polda Bali, hingga Pemkab Badung dan DPRD Badung, terus bersinergi mencegah terjadinya kriminalitas di kawasan pariwisata. Misalnya lewat penempatan aparat di titik-titik keramaian.
“Kalau saya solusinya, beberapa waktu lalu dengan pihak Kejaksaan di Puspem Badung saya sampaikan. Bisa ndak, Pak? Jika satu, dua kali sudah melakukan kejahatan orang luar Bali ini agar tidak bisa kembali lagi dia. Di-blacklist, katanya ngak boleh,” katanya.
“Orang Bali juga ada yang melakukan gitu, kelihatan namanya di kepolisian daftarnya dan ada di pengadilan itu. Di Kejari dan Pengadilan itu, tindakan sebelumnya di Tipiringnya lagi. Sering sampai sekian kali, kita kerja sama dengan desa adat,” imbuhnya.
Yonda juga menyadari sebenarnya bilamana terjalin sinergitas antara pemerintah, penegak hukum, serta komponen desa adat, tentu saja masalah kriminalitas di kawasan pariwisata akan dapat dicegah.
Apalagi tamu Wisman, merasa mereka berlibur ke Bali untuk mencari kesenangan, tetapi malah terkena kriminalitas.
“Saya rasa tamu lebih paham terhadap hukum dan pelanggaran. Tapi, kembali kepada permasalahan adat budaya kita, kultur dan fleksibilitas. Tetapi tetap membina dan kita ingat bahwa kita menghormati mereka datang ke Bali, karena jujur saja orang Bali bisa taraf hidupnya meningkat per-kapita meningkat, kan jujur saja karena pariwisata. Nah, kalau pariwisata tidak tidak berjalan dengan baik, itu juga tidak bagus,” tegasnya.
“Sekarang kita bersyukur di Indonesia ini, kita termasuk yang tidak punya tambang dan tidak punya minyak. Tapi kita eksis. Walau ada sebagian yang kapal pesiar. Pada pada prinsipnya lebih baik, budaya kita yang tetap santun kita pertahankan,” tandasnya. PBN001