Ket Foto: Suasana rangkaian karya Pitra Yadnya ‘Ngewangun Nyawa Wedana Utamaning Utama, Atma Wedana, Maligia Kurung Metatah’ bagi almarhum Jro Mangku Gede I Wayan Tang, pada Paibon Bandesa Tangkas Kori Agung Delod Bingin, Desa Adat Ungasan, Badung, Senin (10/8/2026).
Rangkaian Karya Pitra Yadnya “Ngewangun Nyawa Wedana Utamaning Utama, Atma Wedana, Maligia Kurung Metatah”, terhadap almarhum Jro Mangku Gede I Wayan Tang, akhirnya memasuki tahapan yang utama.
Usai dilakukan upacara ngaben, nganyut, hingga berbagai upacara penyucian. Kemudian, keluarga besar paibon Bandesa Tangkas Kori Agung, Delod Bingin, Ungasan, melakukan kosentrasinya terhadap pelaksanaan Puncak Atma Wedana, yang akan dilaksanakan mulai, Rabu (12/8/2026).
Dijelaskan oleh Ketua Panitia Karya sekaligus Wakil Manggala Karya, I Komang Gede Swastika bahwa rangkaian karya secara seluruhnya telag berjalan sesuai dudonan dan upacara yang ditetapkan.
Baginya, setiap tahapan karya diadakan, memiliki makna spiritual sebagai proses penyucian atma. Lebih lanjutnya, atma dapat mencapai tingkat tertinggi leluhur, di sana tercipta kedamaian dan ketenangan suci.
“Jadi terhadap rangkaian upacara Atma Wedana, ini sudah dimulai sejak beberapa hari terakhir. Kami lakukan upacaranya secara bertahap, yang sesuai sastra agama Hindu dan dresta diwariskan leluhur,” ungkap Gede Swastika, diwawancara, Senin (10/8/22/2026).

Ia menuturkan bahwa diawali rangkaian prosesi melukat, menjadi simbol penyucian lahir bathin.
Selanjutnya, upacara ngekeb dan metatah terhadap anggota keluarga yang mengikuti upacara Manusa Yadnya, dan dilakukan prosesi Manah Toyaning lan Mendak Dateng sebagai upacara penting dalam tahapan Atma Wedana.
“Terhadap prosesi ini menjadi bagian dari penyucian, berbagai sarana upacara yang akan digunakan dalam karya. Kemudian memohon tirta suci sebagai dasar pelaksanaan tahap selanjutnya Atma Wedana,” terang Gede Swastika.
“Semua sarana yadnya terlebih dahulu disucikan agar pelaksanaan karya berlangsung sesuai ketentuan agama. Kami berharap seluruh rangkaian memperoleh tuntunan dan anugerah Ida Sang Hyang Widi Wasa. Selama kegiatan karya dilancarkan selalu,” lanjutnya.
Dari rangkaian tersebut, berlanjut menuju prosesi Nunas Don Bingin, di Catus Pata Desa Adat Ungasan, menjadi rangkaian dudonan karya ini.
“Kemudian dilanjutkan, Ngajum Sekah lan Sangge, serta muspayang ke Hyang Guru Paibon. Ini merupakan wujud penghormatan kepada para leluhur dan memohon restu supaya seluruh tahapan karya dapat berjalan lancar serta rahayu sampai akhir,” ungkap Gede Swastika.

Diketahui pula, seluruh prosesi dilakukan bertujuan menyucikan atma, sehingga dapat meningkatkan kedudukannya sebagai Dewa Pitara. Dimohonkan supaya atma yang telah diupacarai memperoleh penyucian, dan mencapai kedudukan yang luhur sesuai tujuan Atma Wedana.
Diketahui sebelumnya, pada Minggu (9/8/2026) pihak keluarga sudah melakukan sejumlah prosesi penting, yakni: Ngulapin ke Segara, Ngadegang Tapini, Maguru Dadi, Mesiwa Rare Angon, Mapenggalang Sasih, Lumbung Suci, Dapur Suci, Ngingsah, Negtegang, dan juga Nuur Pakulih.
Kemudian saat malam hari dilanjutkan prosesi Ngendag, Merajah, Sungkeman Biaukala lan Ngekeb, serta Ngerumrum lan Makemit.
Hari Selasa (11/8/2026) keluarga melaksanakan upacara Meben Mesumping Keladi, yang dilanjutkan dengan Ngerumrum lan Makemit, sebagai persiapan puncak karya.
Gede Swastika menambahkan seluruh keluarga besar bersama krama pengayah, kini masih terus mempersiapkan berbagai sarana upacara, banten, dan beragam perlengkapan yadnya supaya puncak Atma Wedana, dapat berjalan lancar.
Puncak Atma Wedana pada Rabu (12/8/2026) akan menjadi tahapan paling sakral, dalam rangkaian karya. Pada hari puncak akan dilaksanakan prosesi Maligia Kurung, Mepurwa Daksina, Metiti Ngamah Kebo, Memukur, Mejaya-jaya, serta tahapan penyucian lainnya berdasarkan dudonan karya.
“Harapan kami seluruh rangkaian karya dapat berjalab sesuai dudonan. Memberikan kerahayuan terhadap keluarga, dan mengantarkan atma almarhum mencapai kedudukan yang utama sesuai agama Hindu,” demikian tutup Gede Swastika. PBN001