Indonesia Carbon and Biodiversity Summit (ICBS) 2026, menjadi momentum PT Koop Kopi Indonesia menunjukkan eksistensi dan peranan nyata terhadap pengelolaan petani serta perkebunan kopi.
Di hadapan audiens nasional dan internasional, PT Koop Kopi Indonesia berhasil menunjukkan bahwa kopi bukan saja bicara tentang bisnis karbon, tetapi masa depan pelestarian lingkungan, Rabu (9/9/2026) di Hotel Westin, Nusa Dua, Bali Selatan.
Wujud keseriusan pengelolaan karbon dan edukasi ke petani kopi, ditunjukkan PT Koop Kopi Indonesia dengan berkegiatan di Desa Catur Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.
Tadinya tanaman kopi mencapai ratusan hektar di Desa Catur hanya panen kopi sekali dalam setahun. Setelah itu, petani mengolah tanaman lain, berupa jeruk, menanam bawang, sayur kol, pisang hingga umbi-umbian yang dapat dijual ke perkotaan.
Namun, lewat kegigihan CEO PT Koop Kopi Indonesia, Reza Fabianus, petani kopi diedukasi tentang istilah bisnis karbon dan manfaatnya.
Dimulai dari tingkatan sekaa atau kelompok kopi terkecil, ibu-ibu PKK Desa Catur, dan masyarakat sekitar. Penjualan karbon ini rencananya menyasar pihak investor negara Jepang atau perusahaan dalam negeri.
“Melalui forum resmi Indonesia Carbon and Biodiversity Summit 2026, bahwa saya melibatkan kelompok kopi warga di Desa Catur Kintamani, yang diberikan pemahaman perlahan-lahan. Akhirnya kelompok petani kopi ini mulai mengetahui potensi karbon di kebun kopi mereka. Kopi yang sebelumnya masih sebatas minuman sehari-hari, tapi kebun kopinya dapat menjadi ekosistem penyerapan karbon,” ujar Reza dengan penuh optimisme.
Reza tidak memungkiri kopi arabika di dataran tinggi Kintamani, menjadi yang terbaik di Indonesia, bahkan di dunia.
Sehingga, patut digali kembali potensi kopi arabika di Desa Catur Kintamani, menjadi suatu agroekosistem dan lokasi penyerapan karbon ramah lingkungan dan percontohan di masa depan.
“Karbon yang diserap bukan artinya kebun petani kopi di rusak, tetapi ada perhitungan karbon. Misalnya ada perusahaan besar di dunia yang menghasilkan karbon dan disinyalir merusak lingkungan lewat polusi udara. Sebagai gantinya mereka akan menjadi donatur dan merawat kebun-kebun kopi petani. Jadi, ada sumbangsih untuk timbal balik melestarikan alam,” ucapnya.
Kementerian Koperasi (Kemenkop) RI dan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) R, baru-baru ini juga bersinergi tentang Koperasi masuk pasar karbon dan ekonomi sirkular.
Konsolidasi antar kementerian tersebut mendorong keterlibatan koperasi dalam pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, ekonomi sirkular, dan perdagangan karbon nasional. Kesepakatannya, lewat penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) oleh Menteri Koperasi Ferry Juliantono dan Menteri LH/Kepala BPLH Mohammad Jumhur Hidayat, di Kantor Kementerian Koperasi di Jakarta, Kamis (13/8/2026) lalu.
Kemenkop mendorong keterlibatan gerakan koperasi dalam perdagangan karbon (carbon trading). Situasi ini sejalan dengan langkah Kemenkop yang telah meresmikan pabrik kepala sawit (CPO) milik koperasi di Musi Banyuasin.
Reza menekankan peningkatan perdagangan karbon, tentu wajib memberikan manfaat inklusif terhadap masyarakat akar rumput hingga masyarakat adat, bukan hanya untuk korporasi.
Tidak dipungkiri seluruh komponen ini terlibat menjaga kelestarian alam hingga saat ini. Keterlibatan koperasi dalam perdagangan karbon juga akan membuka lapangan kerja baru di masyarakat. “Salah satunya perlu diorganisasikan ke depan melalui adanya koperasi, di mana akan memberikan wadah bersama dan manfaat ekonomi langsung dan berkelanjutan dari perdagangan karbon di pedesaan,” ujar Reza.
PENJAJAKAN KARBON DI DESA
Ribuan petani kopi di Kintamani, Bangli, tentu saja akan melihat keberadaan PT Koop Kopi Indonesia, tidak saja memberikan pelatihan, tetapi peluang perdagangan karbon.
“Namun, kami juga berupaya untuk meraih keberhasilan melalui model desa percontohan. Itulah sebabnya kami memilih desa tertentu sebagai fokus, salah satunya Desa Catur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Kami mengajak pula Bapak Perbekel (kepala desa) ke pertemuan Indonesia Carbon and Biodiversity Summit 2026, Nusa Dua, Bali Selatan. Jadi kami memulai dari desa yang sangat spesifik. Hal ini penting untuk memastikan karena bagi petani maupun pemerintah Indonesia, proyek dengan solusi berbasis alam dan pelatihan semacam ini adalah hal baru,” kata Reza.
Di sisi lain, mempersatukan pemikiran ratusan petani tentang perdagangan karbon menjadi tantangan tersendiri pengelola PT Koop Kopi Indonesia.
“Tentu saja saya tidak bisa melakukan pemantauan harian, jadi kami bekerja sama dengan yayasan khusus. Kami juga melibatkan para perempuan dari keluarga petani kopi. Inilah salah satu cara kita membangun kesuksesan terkait perdagangan karbon,” tegas Reza.
KONSOLIDASI PETANI
PT Koop Kopi Indonesia melakukan mengkonsolidasikan petani, mengedukasi petani dengan tentang karbon sampai penggunaan alat-alat teknologi, termasuk kegiatan yang selama ini foundation sudah dilakukan.
“Secara prinsip kami menyampaikan program karbon di lingkungan petani yang bisa dikoneksikan dengan pasar karbon. Kita memulai edukasi dan mengumpulkan data-data petani untuk nantinya dimasukkan ke dalam ada satu namanya platform dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) yang menjadi agregator, sehingga nantinya karbon petani ini bisa dihubungkan dengan pembeli karbon di dunia. Sekaligus kita juga berperan sebagai penghubung dengan pembeli kopi, pembeli karbonnya,” tandas Reza.
Kementerian Kehutanan dan Kementerian KLH, masih menunggu perundang-undangan bagaimana lahan petani itu diregistrasi untuk ke dalam sistem negara dan untuk menjual karbon.
“Info terbaru per hari ini dari teman-teman di Kementerian Kehutanan karena karbon ini di bawah sektor kehutanan dalam 2 minggu lagi. Ya, jadi registrasi haknya sudah bisa diakses oleh para petani, sehingga nanti semua petani-petani yang selama ini dalam tanda petik sudah kita bina, legalitasnya kita masukkan ke dalam platform itu, sehingga artinya kita sudah mulai bisa melakukan perdagangan karbon secara legal,” pungkasnya.
LIBATKAN PETANI PEREMPUAN
PT Koop Kopi Indonesia terus menggeliat di Desa Catur, Kecamatan Kintamani, Bangli, dengan melibatkan petani-petani kopi perempuan untuk memberikan wawasan dan strategi pemahaman bisnis karbon berkelanjutan.
“Jadi program ini kan harus jelas juga ya untuk apa dan mau ke mana, apa yang mereka (masyarakat petani kopi) akan dapatkan dari keuntungan (pengelolaan perdagangan karbon). Kami sudah mengadakan dan mengupayakan edukasi karbon di setiap pertemuan. Jadi, di Desa Catur itu ada bermacam-macam kegiatan seperti pertemuan rutin bulanan. Contohnya, di tanggal 1 kita ada pertemuan PKK, di tanggal 15 kita ada pertemuan Desa Ayah Berdaya, dan lainnya,” kata Ketua PKK Desa Ayah Catur, Kintamani, Bangli, Ana Setyowati.
Ia mensosialisasikan tujuan perdagangan karbon secara sederhana ke organisasi perempuan di Desa Catur, apa keuntungan yang akan didapatkan dengan kegiatan perdagangan karbon.
“Jadi kami juga membuat pendampingan dengan bahasa sangat sederhana untuk petani kopi pahami. Jadi, penjualan karbon, bagaimana caranya kita ke depannya melestarikan pertanian kita dengan sistem organik. Mungkin, menurut saya sih responnya dari awal 30%, sekarang sudah mulai meningkat karena apa yang saya lakukan itu dianggap menguntungkan bagi mereka juga,” tandasnya. PBN001