Skip to main content

pilarbalinews.com

Today: 1 August 2026

Menjaga Tradisi Budaya di Desa Adat Batur dari Gemerlap Pariwisata Berkelanjutan

Ket Foto: Pemandangan dari jarak jauh, terhadap Gunung Batur di Desa Batur Kec. Kintamani, Bangli. Masyarakat menjaga budaya dan tradisi, beriringan dengan pariwisata berkelanjutan.

Desa Adat Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, berbaur erat dengan adat budaya dan pariwisata. Apalagi pasca letusan Gunung Batur, pada 1926 silam, kehadiran Pura Ulun Danu Batur dan Pura Jati, sebagai pusat persembahyangan yang disakralkan umat Hindu.

Dipandang pengamat sekaligus Dosen Fakultas Hukum Unud, IGN Parikesit Widiatedja dalam jurnalnya, ‘Signifikasi Kebijakan Pariwisata Bali Berkelanjutan di Tengah Tantangan Liberalisasi’, diungkapkan bahwa sebagai ikon dan figurasi pariwisata Indonesia, Bali telah menjelma menjadi salah satu destinasi wisata dunia yang sangat populer. Pariwisata tidak ubahnya generator penggerak pembangunan perekonomian masyarakat Bali. Sumbangsihnya dalam mendorong perkembangan perekonomian masyarakat Bali, tidak dapat terbantahkan lagi. Dari berbagai pengamatan empiris, tidak kurang 80 persen dari seluruh masyarakat Bali menggantungkan hidupnya pada pariwisata, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada akhirnya, Pemprov Bali sebagai pemegang ototitas dan legitimasi beserta seluruh stakeholder yang berinteraksi langsung di tataran implementatif mulai menggulirkan konsep pengembangan pariwisata yang berkelanjutan demi menjaga dan konstinuitas peranan, serta kontribusinya bagi Bali.

Dikala wisatawan muncul untuk menikmati indahnya pemandangan puncak Gunung Batur dari kejauhan. Pariwisata juga hadir mengubah infrastruktur dan cara pandang masyarakat Desa Adat Batur, untuk berbaur dengan berbagai macam masyarakat luar Bali.

Kondisi air di Danau Batur, salah satu sumber kehidupan masyarakat sekitar. Danau dan Gunung Batur juga menjadi spot pariwisata yang diminati wisatawan domestik dan mancanegara.

Tentu saja, Pulau Bali dengan luas wilayah 5.636,06 Km2, dengan 8 kabupaten, 1 kota, dan 1488 desa pakraman di dalamnya, tidaklah seperti Dubai, tetapi melalui pariwisata kini banyak orang-orang kaya di dunia, orang-orang Rusia dan negara lain datang. Mereka ke Bali untuk berlibur, menanamkan investasi, bahkan tinggal menetap.

Pariwisata budaya kekinian harus dipahami sebagai kegiatan pariwisata yang berwawasan, sekaligus memiliki manfaat untuk kepentingan budaya, beserta pelestariannya. Terlepas dari sejarahnya, ketika orang-orang berbicara tentang Gunung Batur, mereka mulai mengaitkan tentang pariwisatanya. Padahal di dalam relung Gunung Batur, terdapat masyarakat lokal atau local jenius, yang menjaga setiap jengkal tanah batur dari gerusan pariwisata. Jangan sebaliknya pariwisata merusak tatanan adat budaya Batur atau Bali secara keseluruhan.

“Ekonomi Bali sebenarnya ekonomi berbasis pada kebudayaan sebagai hasil cipta, rasa, dan karsa manusia, dengan berlandaskan pada kehidupan pertanian. Keseharian kehidupan krama Bali adalah sejalan dengan tatanan musim. Segala jenis upakara, dalam kehidupan karma Bali selalu dalam bingkai hitungan alam, sejak triwara, pancawara, sapta wara, wuku wara hingga sasih,” ungkap pandangan Gusti Putra Agung Kresna, sebagai senior Researcher pada Center of Culture & Urban Studies Bali.

Tidak dipungkiri lagi masyarakat dari seluruh Indonesia ramai datang ke Desa Adat Batur, dulunya mereka hanya sampai di Kuta, Legian, dan sekitarnya untuk menikmati sunset di pantai.

Alam Gunung Batur menarik wisatawan, menyediakan keindahan berbeda, terdapat kabut hingga dinginnya kawasannya ini dipadu budaya lokal masyarakat yang menjaga Pura Batur sebagai equilibrium alam.

BACA JUGA  Gubernur Koster Serahkan Rp1 Miliar Bantu Perbaikan Bangunan Pura Luhur Pucak Tinggah

Mengawal budaya di Desa Batur, krama Bali harus peka dan jangan terjebak propaganda instan yang sulit diukur realisasinya. Masyarakat Batur, antara sektor pariwisata dan pertaniannya berjalan beriringan.

Namun, pertanian masih memerlukan penekanan pada local institution endowment (berbasis pada kelembagaan lokal) yang telah ada. Pertanian di Desa Adat Batur, juga harus menjadi penghidupan, sehingga tidak terjadi ekspansi generasi muda ke sektor swasta secara masif.

“Seperti yang pernah kita lakukan di sekitaran Danau Batur, yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari Gunung Batur dan segala macam di sekitarnya. Masalah pertanian di mana masyarakat membutuhkan air bersih untuk kehidupan sehari hari dan pertaniannya. Termasuk penyaluran hasil produksi tani seperti sayur kol, sawi, wortel, hingga buah-buahan jeruk, mangga, dan produksi lainnya. Kita harus menjaga semuanya dari sampah plastik, bisa sering sampah plastik ada di areal pertanian. Inilah pentingnya kita menjaga alam Batur (Tri Hita Karana-red) dan sekitarnya, sebagai warga Bali kita tentu mendukung pariwisata berkelanjutan, tetapi tetap ingat bahwa alam Bali harus bersih dan terjaga lestari,” tutur Tutik Kusuma Wardhani selaku anggota DPR RI Komisi IX dari Partai Demokrat, Jumat (24/7/2026) lalu.

Pertanian bawang tampak tumbuh subur di bawah Gunung Batur dan areal sekitarnya.

Tantangan ke depan adalah mewujudkan kelembagaan pariwisata dan pertanian dengan kearifan lokal, sehingga mampu berjalan seiringan. Hal ini sekaligus menjadi organisasi yang bersifat sosio-agraris-religius. Sebaliknya, dalam pertumbuhan investasi di sektor pariwisata seringkali menemukan masalah kemacetan lalu lintas, kriminalitas, lapangan kerja, hingga kesehatan.

“Problematika pariwisata berkelanjutan merupakan pembangunan berdimensi ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan hidup, sehingga memiliki keadilan tidak hanya untuk generasi sekarang, tetapi generasi akan datang. Pariwisata harus dipandang sebagai sistem yang meliputi berbagai sistem dengan saling berinteraksi dan saling mempengaruhi,” imbuh Parikesit, memberikan pandangannya.

Diberbagai kegiatan usaha, banyak masyarakat Bali menyewakan gedung atau tanah mereka untuk dijadikan hotel dan restoran. Tentunya, targetnya mencari kunjungan wisatawan untuk memanfaatkan jasa usahanya. Diketahui, pariwisata dengan basis masyarakat merupakan bentuk kepariwisataan di mana komunitas lokal mestinya memiliki kontrol pada dan keterlibatan dalam pembangunan, serta pengelolaan secara substansial.

“Jadi suka tidak suka, kemacetan setiap hari merupakan pertunjukkan yang tidak pernah jeda. Suguhan berbagai kemewahan kendaraan bermotor maupun mobil, sungguh menjadi kebanggaan, akan tetapi dampaknya seperti gas dibuang, pemanasan lingkungan sudah tidak dapat ditoleransi ikut mencemari lingkungan. Banyak fakta-fakta lainnya, bukan semata-mata karena karena jumlah penduduk yang besar. Namun juga dipengaruhi jumlah wisatawan ke Bali dari tahun ke tahun,” terang Prof. Rumawan Salain.

BACA JUGA  Dugaan Gunakan Narkotika, Lima Tersangka Kasus Penganiayaan dan Pembakaran Dua Korban di Jalan Pelabuhan Benoa Didalami Polresta Denpasar
Pengembangan pelabuhan perahu untuk tempat bersandar nelayan di Danau Batur, dari pemerintah Bali dan Bangli, membuktikan sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata berjalan sinergis.

Pengembangan pariwisata berkelanjutan, masih belum diikuti dengan pengembangan pertanian dari segi teknologinya di Batur. Pertanian dan teknologinya masih harus dikembangkan ke dalam suatu sistem agribisnis pertanian, mulai dari hulu (input dan prasarana produksi, subsistem on-farm (produksi), subsistem pengolahan, subsistem pemasaran dan subsistem penunjang agribisnis dalam manajemen profesional.

Pertanyaan besarnya adalah pembangunan pariwisata berkelanjutan di Batur, apakah telah melampaui batasnya?, atau masih dalam kadar toleransi untuk menerima pariwisata dengan turis dari seantero Bali? Pembangunan pariwisata Desa Batur, pada masa kini dan akan datang wajib mengedepankan pelestarian lingkungan, budaya, dan ekonomi sehingga dapat tumbuh berkelanjutan. Jangan sampai Desa Batur, justru tergelincir menjadi areal dengan seribu glamping, coffee shop, hotel maupun toko modern. Dampaknya jelas, lingkungan harus menjadi korbannya.

Data Bank Indonesia, mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bali pada Juni 2026 tetap berada di level optimis sebesar 121,5 (nilai indeks > 100). Kepala Perwakilan Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali, Achris Sarwani mengatakan meskipun menurun dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 121,9, IKK Bali masih lebih tinggi dibandingkan IKK nasional yang tercatat sebesar 117,8.

“Optimisme konsumen pada Juni 2026 didorong oleh peningkatan IKK pada masyarakat dengan kelompok pengeluaran Rp7-8 juta sebesar 17% (mtm), Rp1-2 juta sebesar 14% (mtm), Rp3-4 juta sebesar 9% (mtm), dan Rp4-5 juta sebesar 5% (mtm),” ujar Achris Sarwani, Selasa (21/7/2026).

Terhadap optimisme terutama meningkat pada kelompok masyarakat berpendapatan menengah dan menengah atas yang terdorong oleh tetap kuatnya aktivitas ekonomi Bali. “Optimisme tercermin pada pekerja di sektor formal (122,8) dan sektor informal (120,4). Perlambatan IKK dibandingkan bulan sebelumnya terutama dipengaruhi oleh Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) turut mengalami penurunan menjadi 123,7 atau turun 2,1% (mtm) dibandingkan IEK Mei 2026,” tegas Achris.

Ia menerangkan adanya penurunan terutama terjadi pada komponen prakiraan penghasilan (121,0) dan kegiatan usaha (123,5). Sementara itu, ekspektasi terhadap ketersediaan lapangan kerja 6 bulan mendatang masih menunjukkan peningkatan sebesar 0,4% (mtm) atau menjadi 126,5.

Dari data perkembangan ekonomi yang tergolong masih baik, Desa Batur dan Bali diharapkan dapat terjaga melalui kunjungan pariwisata. Bali sebagai daerah tujuan wisata (tourism destination) dikenal karena keunikannya. Berbagai seni pertunjukkan hingga bangunan suci pura mencapai lebih dari 20.000 buah, hal ini yang membuat banyak pengunjung memberikan julukan Bali sebagai ‘Pulau Dewata,’ atau ‘Sorga Terakhir’. (Soedarsono, 1997: 17). Ini pula yang meyakini Bali sebagai ‘Pulau Kesenian’ (Kartodirjo, 1987: 47). Karena itulah, pariwisata dan pertanian di Desa Batur sebagai desa yang berbaur dengan beragam masyarakat lokal agar dapat tumbuh berkelanjutan dengan menjaga tradisi dan budaya di dalamnya. PBN001/Dewa Kusuma

@pilar_bali_news

@pilarbalinews

Pilar Bali News