pilarbalinews.com

Today: 30 June 2026

IPR Bali 125,3 Persen, Penjualan Eceran Bali Selama April 2026 Tetap Optimis

Ket Foto Ist: Terangkum data Bank Indonesia, di mana Indeks Penjualan Riil (IPR) Provinsi Bali selama April 2026, tetap kuat sebesar 125,3.

Indeks Penjualan Riil (IPR) Provinsi Bali selama April 2026, tetap kuat sebesar 125,3 dan masih berada di level optimis (>100).

Kinerja tersebut meningkat sebesar 0,8% (mtm), terutama didorong oleh pertumbuhan penjualan pada kategori suku cadang dan aksesori sebesar 5,0% (mtm), bahan bakar kendaraan bermotor 2,2% (mtm), serta barang budaya dan rekreasi sebesar 1,8% (mtm).

“Peningkatan tersebut sejalan dengan menguatnya aktivitas mobilitas masyarakat pada periode libur panjang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Jumat Agung serta meningkatnya aktivitas ekonomi daerah seiring dengan rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) di Kabupaten Gianyar dan Klungkung,” ujar Kepala Perwakilan.Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali Achris Sarwani, Jumat (26/6/2026).

Dikatakan Achris, momentum tersebut turut mendorong permintaan pada sejumlah kelompok barang, khususnya yang berkaitan dengan mobilitas, rekreasi, dan aktivitas konsumsi masyarakat.

Kinerja penjualan eceran pada Mei 2026 diprakirakan tetap kuat. IPR Mei 2026 diprakirakan sebesar 126,0, atau meningkat 0,6% (mtm) ditopang oleh peningkatan penjualan pada kategori sandang, barang lainnya, serta makanan, minuman, dan tembakau.

BACA JUGA  Tembus Top 100 Green Destinations 2025, Jatiluwih Miliki Histori Warisan Budaya Dunia dan Pariwisata Modern

“Perkembangan tersebut sejalan dengan tetap kuatnya permintaan masyarakat di tengah periode HBKN Kenaikan Yesus Kristus, Idul Adha, dan Waisak. Dari sisi harga, ekspektasi harga umum tiga dan enam bulan yang akan datang, yaitu Juli 2026 dan Oktober 2026, diprakirakan meningkat. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Juli 2026 dan Oktober 2026 sebesar 200, meningkat signifikan dibandingkan IEH pada Juni 2026 dan September 2026 sebesar 192,0,” terangnya.

Lebih lanjut, peningkatan ekspektasi harga tersebut perlu terus dicermati ditengah tekanan inflasi tahunan yang masih terkendali.

Pada Mei 2026, inflasi Bali tercatat sebesar 2,99% (yoy) dan tetap berada dalam rentang sasaran inflasi Indonesia sebesar 2,5±1%.

“Dari sisi pembiayaan, aktivitas perdagangan masih didukung pertumbuhan kredit Lapangan Usaha (LU) Perdagangan berdasarkan data Laporan Bank Umum Terintegrasi (LBUT), yang hingga April 2026 tercatatat tumbuh sebesar 1,99% (yoy). Optimisme penjualan ritel ke depan juga tercermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP). IEP tiga bulan mendatang yaitu Juli 2026 sebesar 172,0, meningkat dari IEP Juni 2026 sebesar 170,0,” bebernya.

BACA JUGA  Deklarasi Bersama Tolak Ormas Preman, 13 Ribu Pecalang Siap Jaga Adat Budaya Bali

Sementara itu, IEP enam bulan mendatang, yaitu Oktober 2026 tercata sebesar 190,0, lebih tinggi dibandingkan IEP September 2026 sebesar 184,0. Kedua IEP berada di zona optimis (IEP > 100) yang menunjukkan keyakinan pelaku usaha terhadap prospek penjualan ritel Bali tetap terjaga.

“Demi menjaga stabilitas ekonomi domestik, Bank Indonesia juga melakukan penyesuaian BI-Rate sebesar 5,50%, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,50%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,25%,” ucap Achris.

Kebijakan tersebut diharapkan mampu mendukung terwujudnya stabilitas harga (pro stability) untuk mendukung pertumbuhan ekonomi (pro growth).

Ke depannya, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Se-Provinsi Bali akan terus memperkuat implementasi strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) guna mencapa inflasi yang stabil dan terkendali dalam rentang sasaran, melindungi daya beli masyarakat, serta memastikan agar perekonomian Bali tetap tumbuh berkelanjutan. PBN001

@pilar_bali_news

@pilarbalinews

Pilar Bali News