Film bertajuk SOMA – ‘Warisan yang Mengalir’, secara terbuka di-launching Tim Kerja Kemitraan BPK Wilayah XV, dalam upaya meningkatkan kesadaran dan semangat generasi muda menjaga kelestarian alam, khususnya di Bali.
Film Warisan yang Mengalir, sebagai bentuk peluncuran audio visual budaya trilogi adaptasi dan filosofi Tri Hita Karana.
Mengusung sub tema ‘Peluncuran Audio Visual Budaya, Trilogi Soma adaptasi dari Filosofi Tri Hita Karana’, acara ini menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya yang dikemas secara kontemporer, agar nilai-nilai tradisi tetap relevan, dapat dipahami, dan diapresiasi oleh generasi masa kini tanpa kehilangan akar budayanya.
Sutradaranya merupakan Tim Kerja Kemitraan BPK Wilayah XV, dengan Produser Eksekutif, Kuswanto, S.S., M.Hum dan asisten Sutradara Kresna Herdiato.
Sedangkan pemeran utama film adalah: I Dewa Gede Aditya Dharma (Soma), didukung pemeran film lainnya, yakni: Dessy Novita (Agni), Bagus Dharma Jaya (Bayu), Tri Basuki (Aluna), Wawan Wirawan (Dipa), Budi (Yoga), I Komang Sumara Putra (Soma Kecil), Hendra Utay (Ayah Soma), Wayan Mustra (Bapak Pekaseh).
Didukung penata gambar: Kresna Herdiato, I Wayan Sukradiana, Dewa Komang Dwina Mahesa; Penata Cahaya: I Gusti Bagus Anjas Sema; Penulis Naskah: Heri Irfani; Penyunting Gambar: Denyaran Post Production; Penata Suara/Aransemen Music: GATV Production, Paul Pangkerego; Grandianta Abby; Gemma Gustama; Penulis Lagu: Gemma Gustama; Pengisi Suara Lagu: Ayudewi Deva.
Soma – Warisan yang Mengalir, diproduksi dengan melibatkan dukungan Pemerintah Kabupaten Tabanan, Kepala Desa Jatiluwih, Bendesa Desa Jatiluwih, Bendesa Adat Gunung Sari, Pekaseh Jatiluwih, dan didukung oleh seluruh masyarakat Desa Jatiluwih.
“Film ini sudah dibuat sekitar 3 tahun yang lalu, dengan terkait subak yang ada di Desa Jatiluwih. Subak diangkat karena sebagai warisan budaya yang patut dilestarikan,” ujar Kuswanto, S.S., M.Hum., selaku Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV, di sela-sela pembukaan film Warisan yang Mengalir, Selasa (23/12/2025) di Manaw Thai Petitenget, Badung.

Melalui narasi visual yang puitis dan reflektif, Trilogi Soma mengangkat subak sebagai representasi nyata dari filosofi Tri Hita Karana, di mana air tidak sekadar mengalir secara fisik, tetapi juga membawa nilai, pengetahuan, dan kebijaksanaan lintas generasi.
Film yang ditayangkan juga agar mendorong generasi muda dapat menjaga sawah dan subak di Bali. Sehingga mampu terjaga turun temurun di masa akan datang.
“Di dalam subak, banyak makna ritual dan kebudayaan yang terkandung. Kami berusaha mengimplementasikannya ke dalam film ini, kami harap subak terus lestari di masyarakat,” terang Kuswanto, yang juga dalam acara dihadiri I Gusti Agung Gede Artanegara selaku Kepala Bagian Umum Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV dan Ida Bagus Sugianto, S.S., selaku Ketua Tim Kerja Kemitraan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV.
Trilogi Soma merupakan karya audio visual yang berfungsi sebagai media edukasi budaya, dengan salah satu fokus utamanya pada sistem subak, yaitu sistem pengelolaan irigasi tradisional Bali.
Subak tidak hanya mengatur aliran air untuk pertanian, tetapi juga mencerminkan nilai keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas yang telah hidup dan dijaga oleh masyarakat Bali secara turun-temurun.
Salah satu pemeran dalam film Warisan yang Mengalir, I Dewa Gede Aditya Dharma berperan sebagai Soma, sangat apresiasi dan mendukung langkah dari Tim Kerja Kemitraan BPK Wilayah XV, atas inspirasinya ke generasi muda Bali, agar bersama-sama menjaga alam Bali. Tidak hanya subak, tetapi tanah dan alam di pegunungan, pantai, serta berbagai macam adat budaya di Bali mampu dijaga berbagai pihak.
“Kami mendukung Tim Kerja Kemitraan BPK Wilayah XV, yang telah memberikan jalan dan inspirasi ke generasi muda Bali. Semoga film Warisan yang Mengalir, ini dapat bermanfaat dan mendorong generasi muda Bali, tetap konsisten menjaga alam di seluruh Bali,” ucapnya.
Untuk diketahui, Trilogi Soma akan ditayangkan secara publik melalui kanal YouTube resmi Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV dan dapat diakses melalui tautan berikut: https://www.youtube.com/@bpkwilxv
Melalui Warisan yang Mengalir, Balai
Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV berharap nilai-nilai budaya Bali, khususnya filosofi Tri Hita Karana dan sistem subak sebagai warisan adiluhung, dapat terus mengalir dan menginspirasi masyarakat luas lintas generasi dan lintas ruang.
SINOPSIS TRILOGI SOMA
Trilogi SOMA lahir dari kegelisahan manusia modern yang hidup di antara tradisi dan modernitas. Berlatar Bali, film ini mengajak kita melihat sisi yang lebih sunyi: pencarian makna, keterputusan batin, dan upaya menemukan kembali keseimbangan hidup.
SOMA 1: Muasal bercerita tentang Soma, pemuda dari desa agraris Jatiluwih yang meninggalkan kampung halamannya demi kehidupan kota. Ketika pandemi memaksanya pulang, Soma dihadapkan pada pilihan: kembali menjaga nilai-nilai hidup yang ia tinggalkan, atau tetap menjauh darinya.
SOMA 2: Persimpangan menggambarkan perjuangan Soma saat mencoba menggabungkan dunia kreatif dengan kehidupan desa. Upayanya membawa kemajuan, namun sekaligus memunculkan dilema baru antara pembangunan dan pelestarian nilai.
SOMA 3: SANGKAN menjadi perenungan terdalam. Di tengah keberhasilan, Soma justru merasakan kehampaan. Ia menyadari bahwa harmoni tidak akan utuh tanpa keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Trilogi ini berangkat dari filosofi Tri Hita Karana, bukan sekadar sebagai simbol budaya, melainkan sebagai cara hidup yang mengajak kita berhenti sejenak, hadir dengan sadar, dan kembali pada keseimbangan yang hakiki. PBN001
@bpkwilxv
#TrilogiSoma #SUBAK #KemenKebud