pilarbalinews.com

Produksi Dupa Arusaji di Rumah Berdaya, Wujud TJSL PT Pertamina Sangggaran Dorong Keterampilan ODS

Ket Foto: Keterampilan pembuatan dupa merk Arusaji, kerja sama Rumah Berdaya Kota Denpasar dan PT Pertamina Sanggaran, Senin (27/10/2025). 

Di balik keramaian dan pembangunan pesat di Kota Denpasar, terselip persoalan sosial terhadap Orang Dengan Skizofrenia (ODS) yang aktif direhabilitasi di Rumah Berdaya Kota Denpasar.

ODS kerap dikaitkan dengan masalah kejiwaan, penerimaannya di masyarakat, dan masa depan ODS itu sendiri.

Rehabilitasi ODS yang dirawat di Rumah Berdaya Denpasar, rata-rata pernah mengalami perawatan di RS Jiwa Bangli. Namun begitu, ODS tetap mendapatkan perhatian, seperti telah dilakukan lewat program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Sanggaran, Bali.

Staff Dinsos Kota Denpasar di Rumah Berdaya, A. Gde Ayu Oka Maharini S, S.Psi., menceritakan Dinsos Kota Denpasar dan PT Pertamina Sanggaran, melakukan kerja sama pembuatan dupa merk Arusaji bagi ODS di Rumah Berdaya.

“Kami di sini ada memproduksi dupa, baju kaos bertuliskan #nostigma, hingga totebag kanvas. Kalau dupa Arusaji kami lakukan di halaman belakang Rumah Berdaya. Program ini adalah CSR Pertamina Sanggaran, yang memberikan kami wadah untuk membuat dupa dan kebutuhan lainnya melalui program Schizophrenia Entrepreneur (Shizopreneur),” ucap Maharini, saat ditemui awak media Senin (27/10/2025) di Jalan Raya Sesetan No. 280, Denpasar.

Para ODS yang tinggal di Rumah Berdaya sehari-harinya melakukan aktivitas pembuatan dupa. Diutarakan Maharini, umumnya ODS yang keluar dari RS Jiwa Bangli, masih mengalami stigma di masyarakat. Rumah Berdaya mencoba memberikan ruang sosial dan kreativitas diri terhadap ODS, dengan aktif bekerja membuat dupa.

BACA JUGA  Nikmati Jalan-jalan dan Liburan Bersama Fairfield by Marriott Bali Legian, Buat Momentum Tidak Terlupakan

“Kami ada varian dupa, ada aroma jasmine, coffee, cherry blossom, cendana, dan lainnya. Dupa aroma coffee ini yang tergolong baru, di mana memanfaatkan bahan dari ampas atau bubuk kopi di Difel Kafe, yang dikelola Graha Nawasena Denpasar,” katanya.

Selama proses bekerja membuat dupa yang tujuannya untuk melatih kosentrasi pikiran dan keterampilan ODS, mereka juga diberikan upah setelah bekerja. Pola kerjanya sederhana melibatkan 10 tenaga ODS, setiap harinya bekerja secara bergantian sesuai jadwalnya.

“ODS kami berikan upah per produksi dupa dalam seharinya. Biasanya per 1 Kg produksi dupa kami berikan upah Rp15.000,” katanya.

Keberadaan ODS di Rumah Berdaya, ada yang datang secara mandiri atau diantar orang tuanya setiap harinya. “Biasanya Selasa, Rabu, dan Kamis, diadakan produksi dupa,” demikian Maharini.

Sementara itu, salah satu ODS, I Wayan Nanda Sudiatmika (32) bahwa pengalamannya di Rumah Berdaya memperoleh pelatihan dan bekerja membuat dupa merk Arusaji.

Nanda dengan bertubuh tegap tinggi mengakui produksi dupa memiliki nilai ekonomis di Bali. Di sisi lain pembuatan dupa secara sederhana dan teratur mampu melatih otak ODS, khususnya berpikir serta berkosentrasi.

“Terhadap usaha merk dupa Arusaji, dulu awalnya ada rasa malas kok bikin ini. Lalu diarahkan mentor untuk terus mencoba agar bisa membuat dupa. Akhirnya saya mendapatkan latihan untuk berkosentrasi, mengikuti gerakan ulangan proses membuat dupa. Jadi tidak terasa waktunya, otak dan pikiran kami menjadi fokus,” ungkap Nanda saat diwawancara mengenakan rompi coklat PT Pertamina ini.

BACA JUGA  Rapat Paripurna DPRD Bali, Raperda RPJMD dan Pertanggungjawaban APBD 2024 Dijelaskan Wagub Giri Prasta

Proses pembuatan dupa Arusaji, membuat ia dan teman-teman ODS belajar untuk fokus, bagaimana membuat dupa agar menjadi menarik, ukurannya menjadi sama rata, adonan stik-nya menjadi rapi dibuat, dan pengemasan produk.

“Aroma dupa ini membuat ketenangan, untuk relaksasi diri. Dupa ini pasti laku di Bali, karena setiap hari digunakan masyarakat Bali. Saat produksi dupa ini kami belajar mencintai diri sendiri, sebelum mencintai orang lain,” kata pria asal Sanur Denpasar Selatan ini.

Selama menjadi volunteer di Rumah Berdaya, Nanda menceritakan kerap mendapati persoalan ODS yang mengalami kasus pembullyan. Namun begitu, kasusnya berbeda-beda pada setiap individu. Ia berharap masyarakat saling menolong satu sama lainnya, untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan menghindari sikap bullying.

“Kasus pembullyan juga dapat mempengaruhi seseorang mengalami ODS, ada karena tekanan diri dan ketidaksiapan menjadi seorang ketua kegiatan di sekolah, hingga dirinya mengalami drop. Dampaknya individu tidak menjadi anak yang bahagia,” bebernya.

Melalui program TJSL PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Sanggaran, Bali, bersama-sama staff di Rumah Berdaya, mampu menciptakan manusia yang memanusiakan manusia. ODS berhak memperoleh kehidupan secara layak, teman-teman mengobrol, hingga pengakuan diri di masyarakat.

Rumah Berdaya tidak hanya membuat dupa, tetapi mendorong kreativitas sablon baju, melukis abstrak dan seni kontemporer, menjahit, membuat pameran lukisan, hingga bermain musik punk rock. PBN001