pilarbalinews.com

Pameran Simbiosa Kreatif di Kencu Ruang Seni, Hadirkan Perjalanan Kelompok Informal Senin Kemis

Ket Foto: Tampak pameran lukisan Simbiosa Kreatif, resmi dibuka di Kencu Ruang Seni, Jalan Kubu Anyar Nomor 6, Kuta, Badung, Minggu (4/1/2026).

Kencu Ruang Seni di Kuta, Bali, resmi membuka pameran bertajuk ‘Simbiosa Kreatif: dari Norma Objektif ke Ekspresi Kreatif’. Sebuah rekonstruksi perjalanan kreatif para perupa yang pernah tergabung dalam kelompok informal ‘Senin Kemis’ (1997-2010).

Pameran yang dikuratori oleh Benito Lopulalan ini menampilkan karya sembilan seniman: Chusin Setiadikara, Nyoman Wijaya, Cundrawan, Agus Cahaya, I Made Alit Suarja, I Ketut Sumantara, Anak Agung Gede Wira Merta, I Gede Jaya Putra, dan Tri Akta Bagus Prasetya.

“Judul pameran ini adalah Simbiosa Kreatif: dari Norma Objektif ke Ekspresi Kreatif. Kami gelar pameran mulai tanggal 4 Januari s.d. 4 Februari 2026, mulai Pukul 11.00 s.d. 19.00 WITA, dengan lokasi di Kencu Ruang Seni, Jalan Kubu Anyar Nomor 6, Kuta, Badung,” ujar Kurator, Benito Lopulalan, dalam pembukaan pameran, Minggu (4/1/2026).

Pameran bertajuk ‘Simbiosa Kreatif: dari Norma Objektif ke Ekspresi Kreatif’.

Benito mengungkapkan kehadiran pameran ini menelusuri bagaimana sebuah komunitas belajar seni rupa membangun fondasi teknis yang objektif, lalu berkembang menjadi pencarian bahasa visual yang subyektif dan personal.

“Jadi kelompok informal Senin Kemis, ini lahir sebagai ruang pertemuan sederhana untuk menggambar dan melukis bersama. Namun, dalam rentang 13 tahun, kelompok ini mengembangkan metode belajar kolektif yang khas melalui pertemuan rutin, latihan drawing bersama, dan saling mengasah kemampuan,” ungkap Benito Lopulalan.

BACA JUGA  Advokat Togar Situmorang Dorong Penyidik Polres Gianyar Respon Cepat Kasus Kliennya, Dugaan Penculikan Anak

Pondasi Proses
Benito Lopulalan menceritakan dalam kelompok informal ‘Senin Kemis’, tidak memerlukan kartu anggota. Akan tetapi, wujud komitmen ditunjukkan lewat menempatkan karya individu lewat 500 gambar. Karya dimaksud sebagai modal awal pelukis untuk memiliki skill dan menemukan ciri khasnya tersendiri.

“Salah satu fondasi penting yang diterapkan adalah ‘teori 500 gambar’ yang digagas Chusin Setiadikara. Setiap anggota diminta membuat 500 karya drawing sebagai pondasi awal sebuah pendekatan yang mirip dengan teori ‘10.000 jam’ Malcolm Gladwell,” tutur Benito Lopulalan.

Pembukaan pameran ‘Simbiosa Kreatif: dari Norma Objektif ke Ekspresi Kreatif’.

Diterangkannya, melalui pengulangan dan konsistensi ini menjadi sarana membangun ketrampilan bahasa visual yang dapat dipelajari dan dikomunikasikan secara kolektif.

“Senin Kemis memposisikan drawing bukan sekadar sketsa atau persiapan untuk lukisan, melainkan sebagai sistem rupa yang utuh dan mandiri,” ucapnya, diiyakan pelukis Nyoman Wijaya dan rekan lainnya.

Hal ini mengemuka dalam karya yang ditampilkan dalam pameran ini, setiap karya mengeksplorasi kemungkinan visual yang bisa ditampilkan drawing.

Sejumlah tema-tema kontemporer seperti perbenturan utopia dan distopia, tarik-menarik narasi besar versus narasi kecil, serta pencarian sub-alternatif dalam kehidupan.

Sejak awal, dalam aktivitas Senin Kemis drawing didekati sebagai aktivitas prosesual yang dinami, sebuah ruang dialektika transisional antara objektivitas dan subjektivitas.

BACA JUGA  Basement Pasar Badung Tenggelam 8 Meter, Polresta Denpasar dan Forkompinda Bersih-bersih Pascabanjir

“Dalam pemahaman ini, karya drawing menjadi input, proses, output, sekaligus umpan balik reflektif yang berkelanjutan. Modus kemungkinan semacam ini juga mengemuka dalam karya-karya yang ditampilkan,” terang Benito Lopulalan.

Studio Lukis
Pameran bertajuk ‘Simbiosa Kreatif: dari Norma Objektif ke Ekspresi Kreatif’. Hadir menampilkan rekonstruksi atau forensik pembelajaran Senin Kemis melalui studio proses yang mengeksplorasi drawing di wilayah seni rupa.

“Melalui studio proses tersebut dapat diakses setiap pengunjung selama masa pameran. Setiap orang dapat mencoba belajar mengeksplorasi seni drawing,” beber Benito Lopulalan.

Lebih lanjut, meskipun pertemuan formal Senin Kemis berakhir pada 2010, sejumlah anggota masih melahirkan kelompok pembelajaran di wilayahnya masing-masing.

Diketahui warisan terbesar Senin Kemis bukan pada gaya atau teknik tertentu, melainkan pada cara berpikir dan bekerja yang terus menginspirasi.

Simbiosa Kreatif menegaskan bahwa objektivitas teknik dan subjektivitas ekspresi tidak saling meniadakan, melainkan bersimbiosis dalam satu ekologi yang sama.

“Disiplin kolektif menjadi nutrisi bagi keberanian individual, sementara terobosan personal menginspirasi dan memperkaya kembali bahasa kolektif,” tegasnya.

Benito Lopulalan mendorong generasi muda, pecinta lukisan, dan masyarakat umum dapat menikmati karya-karya  Simbiosa Kreatif selama sebulan ke depan. PBN001