pilarbalinews.com

Inflasi Januari 2026 di Provinsi Bali Terjaga dan dalam Target Sasaran, Ini Penjelasannya

Ket Foto: Infografis inflasi di Bali pada Januari 2026.

Inflasi Provinsi Bali dalam perkembagannya dirilis BPS Provinsi Bali tanggal 2 Februari 2026, yang mencatatkan secara bulanan Provinsi Bali pada Januari 2026 mengalami deflasi sebesar -0,34% (mtm) sesuai dengan pola seasonal, setelah bulan sebelumnya mengalami inflasi sebesar 0,70% (mtm).

Secara tahunan, inflasi Provinsi Bali melandai dari 2,91% (yoy) pada Desember 2025 menjadi 2,58% (yoy). Di tengah berlanjutnya tantangan dinamika cuaca dan permintaan pada periode libur awal tahun, Inflasi Bali pada Januari 2026 terjaga dalam sasaran 2,5±1% dan lebih rendah dibandingkan Nasional yang sebesar 3,55% (yoy).

Secara spasial, seluruh Kabupaten/Kota IHK di Bali mengalami deflasi bulanan pada Januari 2026. Badung mengalami deflasi bulanan terdalam sebesar -0,78% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 1,09% (yoy), diikuti Singaraja dengan deflasi bulanan sebesar -0,44% (yoy) atau inflasi tahunan sebesar 2,59% (yoy), selanjutnya Tabanan mengalami
deflasi bulanan sebesar -0,21% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 2,00% (yoy). Lebih lanjut Denpasar mengalami deflasi bulanan sebesar -0,13% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,60% (yoy).

BACA JUGA  Mantan Wakapolri Komjen Pol. (Purn) Drs. Oegroseno Menyakini Ada Kriminalisasi Kasus Tersangka IMD

“Kondisi inflasi tahunan tersebut perlu diwaspadai karena berada di atas rentang sasaran inflasi 2,5±1%,” ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja Direktur, belum lama ini

Deflasi di Provinsi Bali terutama disumbang oleh penurunan harga secara aggregat pada Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau. Berdasarkan komoditas, secara bulanan deflasi Januari 2026 terutama bersumber dari penurunan harga cabai rawit, bawang merah, dan cabai merah karena peningkatan pasokan di tengah panen, serta penurunan harga bensin dan daging ayam ras.

“Deflasi yang lebih dalam tertahan oleh kenaikan tarif parkir, sewa rumah, emas perhiasan, ikan tongkol diawetkan, dan kangkung. Ke depan, beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain tingginya permintaan barang dan jasa pada periode long weekend dan HBKN Ramadhan serta berlanjutnya kenaikan harga emas dunia,” paparnya.

Lebih lanjut, puncak musim hujan berisiko menyebabkan produksi pertanian kurang optimal, gangguan distribusi, dan meningkatkan risiko penyakit hewan ternak serta gelombang tinggi yang berpotensi menahan produksi perikanan.

Erwin menambahkan menghadapi triwulan I 2026, kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan untuk menjaga stabilitas harga dalam menghadapi rangkaian Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri dan Nyepi.

BACA JUGA  Tingkatkan SDM dan Pendidikan, ITB STIKOM Bali Kirim Mahasiswa Kuliah Sambil Magang ke Jepang

Tambahan permintaan pangan juga diprakirakan akan meningkat seiring dengan peningkatan cakupan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Oleh karena itu, sinergi TPID perlu terus diperkuat dalam menjaga stabilitas harga komoditas pangan, khususnya beras, hortikultura, dan daging ayam ras. Dalam mengantisipasi potensi peningkatan tekanan inflasi ke depan, Bank Indonesia Provinsi Bali terus memperkuat sinergi dan inovasi bersama Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Bali, yang difokuskan pada tiga pilar utama,
yaitu menjaga stabilitas pasokan, meningkatkan efisiensi distribusi, serta memperkuat aspek regulasi,” terangnya.

Strategi tersebut diimplementasikan utamanya melalui intensifikasi operasi pasar dengan kaidah 3T (tepat waktu, tepat lokasi, dan tepat sasaran), penguatan kerja sama antar daerah baik intra-Bali maupun luar Bali, dan perluasan ekosistem ketahanan pangan hulu-hilir yang inklusif dengan melibatkan BUMDes, Perumda pangan, dan koperasi, yang diperkuat melalui regulasi pemanfaatan produk pangan lokal oleh pelaku usaha di daerah. Melalui langkah-langkah strategis tersebut, inflasi tahun 2026 diprakirakan terjaga dalam sasaran 2,5%±1%.