Ket Foto: Suasana Beyond Aesthetics 2026 menghadirkan Master Global, bahas teknologi dan teknik peremajaan wajah, Sabtu (17/10/2026).
Pendekatan estetika medis yang regeneratif diangkat dalam ‘Beyond Aesthetics’ Meet The Master in Bali 2026, memasuki hari kedua, pada Sabtu (17/10/2026) di Mainstage Ballroom, Renaissance Bali Nusa Dua Resort, Badung.
Momentum Beyond Aesthetics, Meet the Master (MTM) in Bali 2026, mengusung tema The Regenerative Continuum: From Histological Insight to Holistic Rejuvenation.
Sejumlah dokter estetika kenamaan di dunia dan para ‘Masters’, yaitu dokter ahli dan Key Opinion Leader (KOL) global CGBio dari Korea, Vietnam, Portugal, Brasil, serta Inggris dan Filipina.
Danny Lee (CGBIO) mengatakan setidaknya di Eropa, orang-orang semakin menginginkan hasil yang tampak alami.
“Kami semua berupaya mencapai hasil yang natural, bukan sesuatu yang terlihat mencolok, melainkan membuat seseorang tampak lebih segar, lebih muda, dan tetap menjadi diri mereka sendiri. Salah satu sarana yang sering saya gunakan untuk perawatan wajah adalah alat yang sangat efektif untuk memastikan pasien mendapatkan hasil yang baik dan aman,” ungkapnya.
Tren yang sedang berlangsung di Eropa saat ini, sempat ada masa di mana terdapat tekanan untuk menggunakan asam hialuronat (hyaluronic acid) dalam jumlah besar. Namun, pasien kemudian menyadari dampaknya karena hasil yang diperoleh justru terlihat tidak alami. Akhirnya, mereka meminta beralih ke pendekatan yang lebih alami.
“Penggunaan agen biosimulator, misalnya, terbukti sangat efektif karena mampu mengembalikan fungsi alami kulit. Kulit menjadi lebih tebal dan lebih sehat, sehingga penampilan pun membaik, namun tetap terlihat alami,” katanya.
Anatominya memang sangat berbeda. Meski pendekatannya mungkin berbeda, metode ini tetap memberikan hasil yang baik, baik bagi pasien Eropa maupun Asia.
“Pendekatan ini memungkinkan kami mencapai hasil yang sangat memuaskan karena bersifat fisiologis. Ini bukan sekadar menyuntikkan zat seperti gelatin seperti yang dilakukan pada prosedur filler biasa, melainkan menggunakan produk yang meniru fisiologi tubuh Anda sendiri,” tegasnya.
Dr. Carlota De Olim (Portugal) mengungkapkan pengembangan estetika medis senantiasa mengalami kemajuan, perawatan banyak berfokus pada menambah volume, kini arahnya bergeser ke pendekatan regeneratif, yaitu memperbaiki kualitas jaringan dari dalam agar hasilnya lebih natural dan bertahan lebih lama. Selain itu, tidak hanya di wajah tetapi juga di bagian tubuh lainnya.
“Bagi mereka yang sedang mempertimbangkan perawatan estetika wajah? Menurut saya, anda harus sangat berhati-hati dalam memilih siapa yang akan menangani perawatan tersebut. Saat ini, ada banyak dokter yang sangat kompeten dan siap untuk menangani anda. Pastikan saja anda menjalin interaksi profesional yang baik dalam segala aspek,” ucapnya.
“Anda hanya perlu memercayakan hal tersebut kepada tenaga profesional yang memang ahlinya. Tujuan utama kita adalah merasa nyaman dengan diri sendiri, bukan? Kecantikan dari dalam sama pentingnya dengan kecantikan dari luar,” terang Dr. Carlota.
Dr. Mohamad Aziz (Egypt) menyampaikan melalui program Doctor-to-Doctor (D2D) ini para Masters tidak hanya memberikan materi, tetapi juga berperan sebagai mentor. Peserta dapat berdiskusi langsung tentang kasus klinis dan mempelajari aplikasi praktis perawatan kombinasi.
“Saya sangat senang bisa berada di sini, di Bali. Saya akan berbagi pengalaman saya secara menyeluruh mengenai biostimulasi, topik yang sangat krusial saat ini. Teknologi biostimulator masa kini bukan sekadar tentang bahan pengisi (filler) biasa; fungsinya jauh lebih dari itu. Biostimulator berinteraksi dengan jaringan tubuh, mengubah fisiologi jaringan, bahkan terkadang anatominya seiring berjalannya waktu. Fokus utama kami adalah pada kualitas dan tekstur kulit. Seiring berjalannya waktu, kondisi kulit akan menjadi jauh lebih baik dan lebih sehat,” ungkapnya.
“Saya memperkenalkan teknik baru, yaitu teknik kombinasi. Selain itu, saya juga akan membahas cara menyeleksi pasien untuk mendapatkan hasil yang optimal. Saya akan menunjukkan bukti nyata melalui perbandingan kondisi sebelum dan sesudah perawatan,” ungkap Dr. Mohamad Aziz.
Hal menariknya, Dr. Luciana de Matos Lourenco (Brazil) menekankan Beyond Aesthetics, Meet the Master in Bali 2026 sebagai pembelajaran teknik dan teknologi yang dilakukan secara praktis melalui pembahasan kasus nyata dari berbagai negara, sehingga peserta bisa langsung menerapkannya di praktik mereka.
“Teknologi dan perangkat yang digunakan pada pasien ini merupakan solusi yang terkadang memang diperlukan. Cara kerjanya berbeda dengan prosedur injeksi. Perangkat rumahan ini bekerja dengan merawat bagian kulit tertentu terkadang untuk mengencangka, sekaligus memberikan hidrasi, membantu membangun struktur jaringan, serta menstimulasi produksi kolagen. Terkadang, kombinasi antara teknologi ini dan prosedur injeksi menjadi pilihan yang sangat tepat bagi pasien. Hal ini bergantung pada masing-masing pasien, karena setiap individu itu unik. Namun, ada kalanya pendekatan ini menjadi pilihan terbaik bagi pasien kami,” tegas Dr. Luciana.
Sementara itu, Dr. Giovana Rebelo de Moraes (Brazil) mengatakan sangat antusias dan senang sekali bisa berada di sini, CGBIO.
“Saat ini di Brasil, kami banyak menangani area bokong, baik pada wanita maupun pria, karena banyak pasien kami yang mengalami penurunan berat badan berkat penggunaan obat GLP-1 (Glucagon-Like Peptide-1). Tujuannya bukan sekadar memperbesar bokong, melainkan mengatasi masalah kulit kendur yang muncul akibat penurunan berat badan drastis di seluruh tubuh,” katanya.
Dr. Giovana menerangkan tujuannya bukan sekadar mengubah bentuk tubuh, melainkan untuk memperbaiki kondisi kulit agar menjadi lebih baik, sehingga kualitas hidup dapat lebih meningkat.
“Kami dapat merawat area ini, baik pada wanita maupun pria, untuk memperbaiki kondisi bokong. Kami juga bisa menggunakan asam hialuronat (hyaluronic acid) untuk menambah volume bagi mereka yang kehilangan volume di area tersebut. Selain itu, ada area perut yang sering kali mengalami kekenduran, baik pada pria maupun wanita, setelah penurunan berat badan. Kami dapat memperbaiki kondisi kulit dengan mengombinasikan prosedur injeksi menggunakan alat suntik serta berbagai teknologi medis untuk mendapatkan hasil yang lebih baik bagi tubuh,” ungkapnya.
Dr. Olivia Aldisa (Indonesia) membagikan perspektif dan pengalaman klinisnya melalui presentasi kasusnya berjudul Hybrid, combining the classic and the next level facial rejuvenation sebagai bagian dari rangkaian MTM.
“Kadang orang masih mengibaratkan filler itu kayaknya kayak momok gitu sekarang gitu ya, mereka masih ada takut sekali. Kita enggak bisa melepaskan ini dari filler juga. Kenapa? Karena pasti satu modalitas itu ada positioning-nya,” ungkapnya.
“Tapi kalau untuk struktur dalamnya ya, yang misalnya emang ada penuaan terus ada kosong-kosong, cowong-cowong, terus habis itu eh memang ada penyusutan tulang, ya mau nggak mau kita harus pakai filler, kayak gitu ya, sebagai struktur dari dalamnya. Kalau nggak, mukanya nggak bisa harmonis juga. Kulitnya bagus ya, kulitnya nempel, cuma mukanya belum proporsional, kayak gitu. Nah, kayak gitu. Tapi kan kita mau meminimalisir jumlah pemakaian filler HA ya, teman-teman ya. Filler HA yang notabene bisa ngikat air dan akhirnya jadi tembem-tembem gitu kan. Nah, di sini kita memakai kalsium hidroksiapatit sebagai hybrid dengan hyaluronic acid (asam hialuronat) tersebut. Jadi, kita kombinasi. Jadi, biostimulator dikombanasi yang bisa langsung dicampurkan dengan hyaluronic acid itu cuma HA ini yang kita lagi bahas di sini,” tegasnya.
Menurut dr. Olivia, salah satunya Filler HA, dengan bahan yang baik, itu satu-satunya modalitas yang bisa diprediksi.
“Maksudnya, proyeksinya sedang seperti apa, kemudian kita bisa atur kentalannya, seperti itu ya. Jadi, kita bisa tahu, misalkan kita taruh di apa? di atas tulang, pasti kita butuh filler yang kuat di sana. Kalau untuk yang di dangkal kita ini lebih halus misalnya kayak gitu. Lebih terprediksi dan dia juga satu-satunya yang bisa di-reverse (balik). Ya, karena kalau misalkan nih kita agak kurang suka dengan kita punya filler, itu bisa diluruhkan dengan enzim hyaluronidase (enzim protein yang berfungsi memecah asam hialuronat di dalam jaringan ikat tubuh). Jadi masih relate atau berkaitan sebenarnya,” pungkasnya. PBN001