pilarbalinews.com

Romi Sukadana Pameran 24 Lukisan Bertema Divergent Mind di Santrian Gallery, Terinspirasi Pikiran dan Zaman Berubah-ubah

Ket Foto: Tampak pembukaan seniman Romi Sukadana dengan tajuk Divergent Mind, Jumat (9/1/2026) di Santrian Gallery, Sanur, Densel.

Seniman lukis I Made Romi Sukadana menggelar solo exhibition bertajuk Divergent Mind, di Santrian Gallery, Jumat (9/1/2026) di Jalan Danau Tamblingan No. 47, Sanur, Denpasar Selatan.

Pembukaan ditandai dengan sambutan-sambutan dari para seniman lukis, di mana sebagai dukungan terhadap terselenggaranya solo exhibition dari Romi Sukadana.

Perwakilan Santrian Gallery, Gus Dollar mengatakan pameran Romi Sukadana mengawali pameran di awal Tahun 2026.

Karya-karya Romi Sukadana, menunjukkan lukisan kebebasan dari dalam diri. Selain itu, pelukis Romi Sukadana telah berpengalaman melukis dan berpameran di Samtrian Gallery.

“Terima kasih kepada Romi Sukadana yang sudah berpameran di Santrian Gallery. Jadi ini pameran Romi Sukadana yang ketujuh,” ujarnya.

 

“Kami berharap juga bisa terjadi sinergi dan saling mendukung seniman lainnya. Griya Santrian agar menjadi oase seni di Sanur,” imbuh Gus Dollar.

Diungkapkan pelukis Romi Sukadana bahwa karya kali ini mengajak penikmat seni lukis, tentang ide-ide baru.

BACA JUGA  Komitmen Jaga Bali, Gubernur Koster Tegaskan Pemprov Bali Berhak Tolak Terbitkan SKT Ormas

“Terima kasih untuk Santrian Gallery, yang selalu men-support untuk berpameran. Lewat tema Divergent Mind, dimaknai sebagai karya saya yang berubah-ubah. Saya memandang seniman memiliki otoritas penuh atas karya dihasilkannya,” katanya.

 

Made Susanto selaku penulis pengantar dari pelukis Romi Sukadana, menjelaskan proses kreatif yang dihasilkan sebanyak 24 karya malam ini. Setiap orang dapat melihat bahwa gagasan itu mengalir dari satu kanvas ke kanvas lainnya, secara tema dan style lukisannya.

“Semua karya itu memiliki lompatan-lompatannya tersendiri, sehingga kita tidak menemukan bagaimana satu dan lainnya kalau kita hanya melihat tema serta style-nya. Sesuai pemikiran tentang Divergent Thinking (Gobllin) yang menjadi perbedaan dari Konvergen Thinking, di mana melihat sesuai secara linier/positivistik. Lewat Konvergen Thinking, kita lihat sebaliknya, ada proses, letupan-letupan gagasan yang bisa sangat mengalir dan cair dalam proses kreatif seorang seniman,” ucapnya.

 

Susanto menegaskan dalam Divergent Thinking melalui karya-karya lukisan Romi Sukadana, dapat dilihat dan dirasakan melampau proses berpikir itu sendiri

BACA JUGA  Tingkatkan Komitmen Pemilu, KPU Bali Jalin Perjanjian Kerja dan Pakta Integritas

“Dalam Divergent Thinking, ada empat karakteristik, yakni: Proses keberlimpahan ide; Fleksibelity (penolakan terhadap alternatif tunggal dalam berkarya); Originalitas karya; dan terakhir Proses elaborasi,” pungkasnya.

Pembukaan dilakukan oleh Dr. I Wayan Sujana, S.Sn., M.Sn., selaku seniman dan akademisi, mengungkapkan bahwa pameran dari Seniman lukis I Made Romi Sukadana, hasil dari komunikasi dan diskusi bersama, hingga lahirlah tema Divergent Mind.

“Romi memiliki pola pikir berbeda, meloncat-loncat, tetapi setelah saya mengamati karyanya. Saya menemukan benang merahnya, di mana pada umumnya seniman berada di satu logika visual dan mempertahankan reputasi. Romi mengubah untuk merubah logika visual untuk tumbuh berkembang sesuai perkembangan zaman,” paparnya.

 

Secara resmi pembukaan pameran Divergent Mind dari Romi Sukadana, dengan pengguntingan pita dari seniman Wayan Sujana alias Suklu. PBN001