pilarbalinews.com

Subak Jatiluwih sebagai Wisata Dunia, Teknologi Drone Tingkatkan Pertanian

Ket Foto: Terlihat suasana Desa Jatiluwih dengan hamparan sawahnya sangat diminati wisatawan domestik dan manca negara, Rabu (31/12/2025).

Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, menerapkan sistem irigasi atau subak secara turun temurun.

Menurut Miguel Covarrubias (2013) dalam bukunya Pulau Bali Temuan yang Menakjubkan, menyebutkan pengertian subak itu sendiri. Subak dibentuk sebagai sebuah persatuan pertanian, badan air yang mengontrol distribusi air yang adil bagi para anggotanya, mereka semua yang mengambil air dari sumber bersama.

Miguel menceritakan, tujuan subak ialah memberi kepastian pada para petani kecil bahwa mereka tidak akan kekurangan air, untuk mengatur bendungan secara efektif sehingga orang asing tidak akan mengalihkan pasokan air, untuk menyelesaikan pertikaian, dan untuk menghadiri perayaan padi.

“Di desa masyarakat ini mendapatkan otoritas sosial, teknis dan administrasi penuh di dalam semua masalah yang berkenaan dengan irigasi dan pertanian. Seperti halnya perkumpulan desa dan dusun, subak dipimpin oleh kepala-kepala yang dipilih, klian dan penyarikan subak, bersama para pembantunya (pangliman). Para pemimpin subak membuka dan memimpin pertemuan, untuk melihat bahwa keputusan-keputusan, serta aturan-aturan dilaksanakan, memberikan denda dan hukuman, serta bertindak sebagai bendahara organisasi. Mereka menyimpan catatan tertulis dari nama-nama anggota subak dan semua transaksi serta notulen rapat,” terang Miguel, (78 : 2013).

Keberadaan subak di Jatiluwih, menerapkan siapa saja yang memiliki sawah diwajibkan bergabung dalam subak dan menjalankan perintah. Seperti subak di Bali, umumnya para anggota diperkenankan memberikan uang untuk pelayanan mereka, tetapi mereka harus hadir bilamana perbaikan yang penting dilakukan, walaupun mereka boleh membayar orang lain untuk mengerjakan tugas yang menjadi bagiannya.

Sebulan sekali atau bilamana perlu lebih sering, sebuah rapat umum digelar di pura subak yang kecil, sebuah tempat sembahyang yang diabadikan pada dewa-dewa pertanian, yang dibangun di luar di tengah-tengah sawah. Kehadiran wajib dan seseorang yang tidak hadir tanpa alasan yang layak akan didenda.

Di dalam perkembangan subak tradisional yang tumbuh di zaman modern di wilayah Desa Jatiluwih. Petani subaknya memanfaatkan teknologi drone sumbangan dari Bank Indonesia, dalam menyebarkan pupuk organik atau pupuk anorganik ke tanaman padi yang sulit dijangkau petani.

“Kami menggunakkan drone dalam rangka mempercepat pemupukan dan menjangkau wilayah sawah yang sulit dijangkau petani kita. Sumbangan drone ini berasal dari Bank Indonesia,” ujar Ketut Purna alias John, selaku Manager DTW Jatiluwih, Tabanan, Rabu (31/12/2025).

Ketut Purna menuturkan kawasan Jatiluwih yang berada di dataran tinggi Pegunungan Batukaru, sebagai Balinese rice terrace, yang dikenal dunia internasional. Memiliki hamparan 636 hektar sawah dan menjadi warisan dunia yang diakui oleh UNESCO di Tahun 2012, merupakan tanggung jawab masyarakat Jatiluwih dan Bali, dalam melestarikan segala macam isinya. Tidak saja menanam dan memanen padi, melainkkan budaya yang terkandung di dalam subak maupun sawah Jatiluwih itu sendiri.

BACA JUGA  Koster Resmi Serahkan SK 4.351 PPPK dan 89 CPNS Pemprov Bali

“Tidak hanya melihat-lihat pemandangan di sawah dan trekking sembari melepaskan penat pikiran. Pengunjung bisa melihat drone yang digunakan untuk memupuk sawah kami, ini adalah bagian dari promosi wisata. Tujuannya menjaga alam sawah tetap lestari dan ajeg budayanya turun temurun,” ucap Ketut Purna.

Orang-orang manca negara sering menyebut Bali sebagai The Natural Paradise, The Blessed Isle, The Lotus Isle, The Island of Temples and Dance, dan sering disebut Pulau Dewata.

Di Bali, termasuk di Jatiluwih dengan kekayaan hamparan sawahnya, Rwa Bhineda menjadi suatu hukum yang berlaku di mana-mana. Rwa Bhineda saling melengkapi, berdampingan, dan menciptakan keseimbangan masyarakat Jatiluwih, yang rata-rata bergerak di sektor pertanian dan pariwisata.

Pemanfaatan drone di sawah Jatiluwih, dalam menjangkau pemupukan di area pertanian yang jauh.

 

Memiliki udara yang sejuk dan hamparan pemandangan sawah yang airnya bersumber dari Pegunungan Batukaru. Jatiluwih hadir menjadi motor pariwisata di Kabupaten Tabanan. Di sini, Ketut Purna menekankan pengelolaan Wisata Berbasis Komunitas atau Community Based Tourism. Namun, Jatiluwih masih berharap adanya upaya selektif di wilayahnya, khususnya terhadap investor agar tidak mengundang masalah fasilitas fisik pembangunan di kemudian harinya.

“Hal ini menjadi tujuan utama, di mana siapa saja dapat memanfaafkan sektor ini (Community Based Tourism). Jatiluwih tetap bermanfaat di tengah arus perkembangan urbanisasi penduduk ke kota, perubahan iklim, perubahan teknologi, dan perubahan tenaga kerja dari dulunya banyak bertani beralih ke sektor pariwisata,” tuturnya.

Sawah Jatiluwih yang berundak-undak juga menjadi simbol harmonisasi, seperti filosofi Tri Hita Karana, dalam mengarungi hubungan manusia dengan Tuhan (Parahyangan), manusia dengan manusia (Pawongan), dan manusia dengan alam (Palemahan).

Bagi Ketut Purna, sawah Jatiluwih adalah kehidupan masa kini dan masa depan. Tri Hita Karana, senantiasa dijalankan masyarakat sebagai wujud kesetiaan dan toleransi kebersamaan. “Ini yang patut kita jaga bersama di Jatiluwih,” ucapnya.

Kini lewat pemanfaatan drone untuk pertanian Jatiluwih, masyarakat petani mampu lebih optimal bekerja dan bertani.

“Kami harapkan drone yang ada bisa ditingkatkan fungsinya bagi petani di Jatiluwih, sehingga petani memperoleh manfaat secara baik di masa tanam padi,” tuturnya.

Penghargaan Green Destinations Top 100 Stories 2025 yang digelar di Montpellier, Perancis.

 

Kawasan Jatiluwih, belum lama ini juga memperoleh Penghargaan Green Destinations Top 100 Stories 2025 yang digelar di Montpellier, Perancis. Di dalam perkembangannya, Jatiluwih dengan panorama sawah berundak-undaknya, terpilih menjadi destinasi berkelanjutan terbaik dunia.

“Saat di Perancis, Desa Jatiluwih menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang memperoleh penghargaan prestisius ini. Jelas menjadi motivasi bagi kami di DTW Jatiluwih dan masyarakat Bali,” tutur Ketut Purna, mengenang situasi saat penyerahan penghargaan di Perancis.

BACA JUGA  Early Detection: Colorectal Cancer Rates Declining

Konon terdapat 600 destinasi dari 60 negara, di mana Jatiluwih maju dengan cerita inspiratif berjudul: ‘Green Miracle in a Cultural Heritage Living Museum‘. “Singkatnya, dalam cerita inspiratif memaknai mendalam kisah Jatiluwih yang merawat warisan subak, sistem irigasi tradisional Bali yang diakui UNESCO. Jatiluwih mampu hadir dalam perkembangan pariwisata modern, tetapi tetap menyatu dengan jiwanya dan lestari,” tuturnya lagi.

Melalui luasan sawah di Jatiluwih mencapai 2.233 Ha. Penggunaan tanah pada wilayah Desa Jatiluwih menurut data desa memiliki tanah sawah seluas 303 Ha, Tanah Tegalan 813,999 Ha, Tanah Pekarangan 24 Ha, Hutan 1.057 Ha, dan lain-lainnya 60 Ha. Bagi Ketut Purna, berharap ke depan terdapat perhatian lebih pemerintah daerah atau pusat dalam menjaga sawah dan Sumber Daya Manusia (SDM) petani Jatiluwih.

“Untuk menjaga seluruh komponen di Jatiluwih, tentu diperlukan stakeholder pusat dan daerah. Tidak terkecuali perhatian bagi petani Jatiluwih, dari pupuknya, peralatan, dan teknologi pertaniannya. Hanya baru terlihat drone saja digunakan, sisanya masih memakai teknologi sederhana seperti petani umumnya. Tapi, kami yakini semuanya memiliki daya tariknya tersendiri,” katanya.

Di tengah perkembangan teknologi pertanian yang semakin maju, Ketut Purna menilai destinasi kunjungan pariwisata di Jatiluwih, tidak dibantah sektor pertanian dan pariwisata menjadi tumpuan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

Pariwisata ibarat a new kind of sugar (semanis gula baru). Pariwisata tidak tanggung-tanggung menjadi paspor menuju pembangunan (passport of development) (de Kadt, 1979). Ke-Balian orang Bali tercipta oleh sejarahnya sendiri, oleh falsafah manusia Bali, pandangan hidup, pengaruh lingkungan, budaya pendatang yang singgah dan tinggal menetap di Bali, daya adaptasi kultur luar yang berjalan alamiah hingga toleransi antar umat beragama.

“Tidak dipungkiri juga, pariwisata di Jatiluwih menjadi lokomotifnya menarik wisatawan ke Tabanan. Pariwisata dan pertanian dimiliki menjadi patron baru bagi berbagai bentuk kesenian, seperti kesenian pertunjukkan, seni lukis, ukiran dan lainnya. Pariwisata pertanian dengan memupuk memakai drone, trekking pagi hari, melihat sunrise menyeduh teh beras merah khas Jatiluwih, hingga menikmati hijaunya bentangan sawah adalah sesuatu yang istimewa di mata wisatawan domestik maupun mancanegara,” katanya.

Keramahtamahan dan adat istiadat di masyarakat Jatiluwih mengundang wisatawan, meski harus menempuh jarak 44 Kilometer dari Kota Denpasar.

“Sampai saat ini, kondisi potensi pariwisata secara nyata mendorong pertumbuhan usaha-usaha di Jatiluwih. Sejak menjadi daerah wisata, Jatiluwih sampai kini sebagai potential tourist destination,” tandasnya. PBN001