Desa Jatiluwih Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, tersohor di manca negara dengan sistem pertanian subak yang diwarisi turun temurun dari leluhur. Desa Jatiluwih berjarak tempuh sekitar 44 Kilometer dari pusat Kota Denpasar, sangat ideal menjadi lokasi berlibur turis domestik dan manca negara.
Sejak zaman penjajahan Belanda, Pulau Bali diibaratkan sebagai museum hidup. Bahkan, pandangan G.P. Rouffaer direktur Bali Institut yang didirikan tahun 1915 memberikan gambaran, supaya orang Bali meneruskan kehidupan pribumi mereka yang indah, bebas dari gangguan apapun. Pertanian mereka, kehidupan pedesaan mereka, semuanya itu menunjukkan suatu kebudayaan pribumi yang amat lentur dan kaya. Maka janganlah dibangun jalur kereta api di Bali. Jangan pula membuka perkebunan kopi di barat, dan jangan membuat pabrik gula. (Robinson 1995: 41 dalam Michel Picard, 2006: 27).
Serupa dengan Desa Jatiluwih dengan bentangan permata persawahannya, peneliti Michel Picard menyebutkan tujuan Belanda bukanlah melindungi kebudayaan Bali yang ada, melainkan memulihkan apa yang disangka oleh mereka merupakan keadaan aslinya. Dengan demikian, tidak hanya sekedar mencoba melindungi orang Bali dari pengaruh-pengaruh luar, para orientalis dan pejabat Belanda mengajarkan pula orang Bali yang sebenarnya: itulah tujuan dari kebijakan yang dikenal dengan nama Baliseering atau ‘Balinisasi’, yang diterapkan pada Tahun 1920-an. Kebijakan ini bertujuan meningkatkan kesadaran generasi muda atas kekayaan warisan budayanya, melalui pendidikan yang menekankan pelajaran bahasa, sastra hingga kesenian tradisional. Sambil di sisi lainnya secara aktif menekan segala wujud modernisme yang tidak selaras itu (Flierhaar, 1941).
Masyarakat Desa Jatiluwih melihat subak sebagai tatanan irigasi yang kaya penghidupan dan kebudayaan. Peninggalan subak Jatiluwih yang berada di bawah kaki Gunung Batukaru, sebagai karya agung budaya Bali. Subak menjadi benteng pertahanan dan soko guru tatanan ekonomi serta tatanan sosial tradisional.
Balinisasi budaya menanam padi dengan irigasi subak merupakan cerminan menghargai alam Bali. Masyarakat Jatiluwih juga mengusung konsep Tri Hita Karana (Parahyangan: menghargai manusia dengan Tuhan; Palemahan: manusia dan alam; Pawongan: manusia dan manusia). Di sini, hubungan antara kaum petani dan elite investor terlibat dalam pengikutertaan menjaga sawah Jatiluwih.
Keterbukaan ekosistem subak di Desa Jatiluwih, dijaga dari pembangunan fisik di masa depan yang penuh hedonisme tidak terkontrol. Sawah-sawah Jatiluwih dirawat betul seperti menjaga ibu pertiwi. Melalui ketelatenan dan ketekunan tersebut lembaga UNESCO akhirnya memberikan penghargaan Jatiluwih sebagai warisan budaya dunia sejak tahun 2012.
“Pada Tahun 2012 kami memperoleh gelar dari UNESCO sebagai warisan budaya dunia dan Tahun 2024 kami mendapatkan gelar desa terbaik versi badan PBB dari United Nations Tourism (UN Tourism). Oleh karena itulah, Jatiluwih tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi oleh nilai-nilai kehidupan di masyarakatnya, kerja sama antar masyarakat, dan harmonisasi,” ucap Manager Daya Tarik Wisata (DTW) Desa Jatiluwih, Ketut Purna alias John, saat diwawancarai wartawan Pilar Bali News, Jumat (26/12/2025).
Keingintahuan wisatawan yang haus terhadap eksotisme Desa Jatiluwih, telah berkembang dan berkolaborasi lewat teknologi drone (pesawat tanpa awak bersistem navigasi bertugas untuk fotografi-red), tujuannya adalah meningkatkan pemupukan sawah petani.

Drone raksasa pemberian dari Bank Indonesia (BI) kepada pengelola Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, dimanfaatkan secara rutin ke beberapa titik sawah, fungsinya untuk menjatuhkan pupuk organik ke wilayah yang sulit dijangkau petani.
“Pemanfaatan teknologi drone oleh DTW Jatiluwih menjadi bentuk kepedulian kita terhadap petani. Kami memperoleh drone ini kami gratis dari CSR Bank Indonesia, lalu pupuk organik dan sejenisnya kita biaya sendiri. Penyebaran pupuk kita lakukan oleh generasi muda kami di DTW Jatiluwih,” ujar John Purna.
Ia sembari menerangkan luasan sawah di Jatiluwih mencapai luas 2.233 Ha. Penggunaan tanah pada wilayah Desa Jatiluwih menurut data desa memiliki tanah sawah seluas 303 Ha, Tanah Tegalan 813,999 Ha, Tanah Pekarangan 24 Ha, Hutan 1.057 Ha, dan lain-lainnya 60 Ha.

Aktivitas petani yang memiliki sawah dibantu untuk kelestarian alamnya, tumbuh subur dengan pupuk organik dari kotoran sapi yang dipelihara petani. Teknologi drone juga digunakan untuk menyemprot padi dari hama yang kerap muncul saat padi tumbuh.
“Kita izin dulu ke petani, apakah memperbolehkan sawahnya disemprot. Meski drone raksasa, belum seluruh kawasan di persawahan terjangkau karena jaraknya jauh dari jalan raya utama,” ucapnya.
“Penyemprotan menggunakan drone yang sudah setahun digunakan (2025), memakai pupuk hormon, saat itu direkomendasikan Pak Wakapolda Bali Brigjen Pol. Dr. I Gusti Kade Budhi Harryarsana, S.IK., SH., M.Hum., (periode menjabat 2023-2024), di mana rekomendasi dari Prof. Suharto dari Banyuwangi,” imbuh John Purna.
PARIWISATA DAN PERTANIAN JATILUWIH
Semenjak masuknya budaya pariwisata ke Desa Jatiluwih, terjadi ekspansi pertumbuhan fisik di kawasan yang dianggap membawa keuntungan terhadap kawasan yang disebut heritage Jatiluwih.
Wisatawan dapat menginap di villa, menggunakan fasilitas sepeda, atraksi trekking di sawah, membajak sawah, membeli kerajinan tangan khas masyarakat, jajanan laklak, hingga kuliner beras merah di Jatiluwih. Seluruh heritage Jatiluwih juga mendapatkan dukungan Pemerintah Tabanan lewat Jatiluwih Festival, yang sudah berlangsung Ke-VI kalinya pada 19-20 Juli Tahun 2025 lalu.
“Irigasi subak dan sawah di Jatiluwih semuanya sudah berjalan ribuan tahun, bahkan diwarisi sampai sekarang ini. Semuanya kita taat saling menjaga, salah satunya lewat aturan atau awig-awig atau perarem. Melalui ditetapkannya Jatiluwih oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia sejak 6 Juli 2012, ini adalah motivasi kita terus melestarikan alam persawahan dan subak dimiliki,” tutur Bupati Tabanan, Dr. Komang Gede Sanjaya.
Di sisi lain, masyarakat Desa Jatiluwih terus mempertahankan adat istiadatnya dengan berkolaborasi terhadap sektor pariwisata budaya pertanian. “Sekarang tugas kita adalah menjaga penghargaan ini (UNESCO) dan menjadi sebuah tantangan besar. Sebab, menjaga warisan ini tidak main-main, kita semua wajib saling bahu-membahu,” tegas Komang Sanjaya.
Senada diungkapkan Ni Made Ayu Marthini selaku Deputi Bidang Pemasaran pada Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI, bahwa dirinya sangat antusias terhadap ekosistem sawah di Jatiluwih, maka dari terselenggaranya Jatiluwih Festival Ke-VI, akan terus mempertahankan sawah dimiliki.
“Dari Festival Jatiluwih Ke-VI, dengan tema Grow With Nature, kita berada di tengah sawah bukan soal destinasi, tetapi wilayah yang harus sangat kita syukuri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sebab tidak banyak wilayah yang seperti ini dan lengkap. Kalau dari segi sawah mungkin banyak, tadi saya juga sudah bicara dengan Pak Bupati Tabanan, di Negara Vietnam, Fillipina, dan lainnya ada sawah yang memiliki terasering. Tapi, khususnya di Jatiluwih memiliki perbedaan subak-nya. Ini adalah kebudayaan yang diturunkan para leluhur kita di zaman dahulu, jadi hari ini dan ke depan kita harus menjaganya,” bebernya.
Melalui teknologi drone sumbangan BI, diperkirakan seharga Rp250 Jutaan tersebut digunakan DTW Jatiluwih untuk mendorong petani meningkatkan hasil produksi, tetapi tetap menjaga nilai-nilai kearifan lokal sawah Jatiluwih.
“Adanya drone di Desa Jatiluwih, sesekali memberikan warna baru di mata wisatawan yang berkunjung. Di tengah situasi banyak yang meninggalkan profesi petani, kita memanfaatkan drone untuk pertanian modern,” sambung Ketut Purna alias John selaku Manager DTW Jatiluwih, Tabanan.
Ditinjau lewat kunjungan ke Desa Jatiluwih di pada 1 Januari – 22 November 2025 mencapai jumlah 358.001 wisatawan, dari domestik 99.279 orang dan manca negara 258.722 orang, berdasarkan penilaian ajang destinasi berkelanjutan terbaik dunia Green Destinations Top 100 Stories 2025 digelar di Montpellier, Perancis. John Purna mendorong seluruh komponen menjaga kelestarian alam dan budaya pertanian di Jatiluwih. Citra Jatiluwih sebagai kawasan subak yang diakui UNESCO, merupakan tanggung jawab
“Sekarang kita patut menjaga kelestarian Jatiluwih, ini adalah milik bersama. Jika ada aksi-aksi pemasangan seng di sawah Jatiluwih, tentu itu merugikan kita semua. Sebab, citra pariwisata dinilai di sana, kita harus jaga citra pariwisata Jatiluwih ke depannya,” tandasnya.
Salah satu petani di Desa Jatiluwih, Nengah Darmika Yasa mengungkapkan sangat mencintai alam dan budaya subak di Jatiluwih. Ia mendorong berbagai pihak agar menjaga sawah Jatiluwih dari upaya investor yang ingin merusak sawah sebagai karunia turun termurun ini. “Kami selalu mendukung pemerintah dan berharap sawah Jatiluwih dapat terus terjaga, apalagi Jatiluwih memperoleh penghargaan dari UNESCO. Berbagai pihak (pemerintah) juga harus memperhatikan nasib petani,” pungkasnya. PBN001