Kawasan ekologis pesisir Bali memiliki potensi terkait bahari, perikanan, lingkungan dan energi baru terbarukan. Seluruh kegiatan yang dilakukan masyarakat bermata pencaharian nelayan, memerlukan inovasi dan transisi energi baru dalam tenaga mesin.
Transportasi laut digunakan nelayan di Bali, rata-rata konvensional mesin tempel (outboard) bertenaga 5 PK hingga 10 PK, dengan Bahan Bakar Minyak (BBM) Solar atau LPG.
Berdasarkan data dihimpun di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), program pro rakyat nelayan kecil membagikan gratis paket konverter kit LPG, untuk meningkatkan ketahanan energi dan ekonomi rakyat kecil.
Nelayan melaut sering menggunakan BBM premium atau solar, lalu dibantu mesin berbahan LPG, saat itu diwakili Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar, dalam momentum menyerahkan paket konverter kit untuk nelayan di Pantai Ujung Batu, Kota Padang, Sumatera Barat, 7 September 2017.
Pemakaian LPG untuk perahu nelayan juga akan mengurangi pemakaian bahan bakar fosil, sehingga lebih ramah lingkungan. Selama 2017, sebanyak 17.081 unit konverter kit LPG untuk nelayan telah dibagikan di 28 Kabupaten/Kota.
Capaian tersebut menambah jumlah konverter kit nelayan tahun 2016 sebanyak 5.473 unit. Kemudian di Tahun 2018, PT Pertamina (Persero) ditugaskan pemerintah mendistribusikan dan memasang 25.000 paket konverter kit untuk nelayan di 58 Kabupaten/Kota di 18 Provinsi.
Di tengah perkembangan zaman, tenaga motor perahu nelayan mengalami perkembangan. Kali ini MantaOne hadir sebagai mesin penggerak listrik inovatif. MantaOne memiliki rancangan khusus bagi nelayan pesisir yang menggunakan kapal kecil berkapasitas maksimal 5GT.
Keunggulan MantaOne, sebagai produk marine EV yang menawarkan operasi hening, bebas emisi, dan minim perawatan.
Keunggulan lainnya, MantaOne, mampu menggantikan mesin bensin long-tail dengan motor listrik, memiliki tenaga baterai Li-ion, sehingga dapat beroperasi selama 4 jam dengan maksinal kecepatan 6 knot (+ 11km/h).
Sebagai inovasi unggulan startup Azura IDN, lewat produk MantaOne ini menjadi alternatif menggantikan mesin dengan bahan bakar fosil, dengan sistem propulsi listrik modular.
MantaOne juga memiliki keunggulan yang dirancang khusus untuk kapal-kapal kecil di pesisir pantai.
“Jadi Azura Indonesia (Azura IDN), perusahaan rintisan sosial (social enterprise) berbasis teknologi yang didirikan oleh Nadea Nabilla (https://www.linkedin.com/in/nadeanabilla/) di Bali pada Tahun 2020. Organisasi ini lahir untuk nelayan-nelayan kecil mampu mencari nafkah tanpa terbebani dengan mahalnya BBM dan kerusakan lingkungan yang terus memburuk,” ujar Nadea Nabilla, Founder dan Direktur Azura IDN, Minggu (14/12/2025).
Dalam suatu kesempatan Nadea menceritakan kepada wartawan Pilarbalinews.com bahwa kehadiran Azura IDN, sebagai misinya menghadirkan teknologi hijau yang terjangkau dan ramah lingkungan, dibandingkan teknologi konvensional yang sering digunakan nelayan.
Teknologi hijau saat ini menjaga ekosistem dari kerusakan alam, di mana kerusakan ditimbulkan membutuhkan waktu sangat lama dalam rehabilitasinya, misalnya di hutan pegunungan, karang di bawah laut, sampah plastik yang sulit terurai atau di daur ulang.
“Azura IDN memiliki fokus untuk menyelesaikan tiga tantangan utama, di antaranya: tingginya harga bahan bakar minyak; besarnya jejak karbon mesin kapal konvensional; dan rentannya kondisi ekonomi nelayan kecil,” imbuh Nadea.
Startup yang dikembangkan Azura IDN, berupa MantaOne, telah mengalami berbagai manfaat untuk nelayan Bali.
Nelayan dengan MantaOne menjadi lebih produktif, dari sisi bahan bakar juga mengalami pengiritan biaya.
“Manfaatnya nyata, yakni pengurangan biaya operasional minimal 70%, perawatan lebih mudah, gangguan kebisingan jauh berkurang, serta jejak emisi yang lebih rendah untuk menjaga ekosistem pesisir,” terangnya.

Nadea menambahkan MantaOne sebagai pilihan alternatif ketika musim paceklik, di mana lebih efisien untuk nelayan yang menempuh perjalanan pendek saat melaut.
“MantaOne sebagai daya tarik tersendiri terhadap wisatawan yang ingin merasakan berlayar di suasana hening,” ungkapnya.
Terapan Program Nelayan Lestari
Program pemberdayaan komunitas dengan teknologi MantaOne, diberdayakan Nelayan Lestari. Teknologi MantaOne, secara nyata diadopsi dan dirawat nelayan salah satunya di Banjar Kelan, Kecamatan Kuta, Bali.
MantaOne menjawab kebutuhan teknis akan mesin yang hemat biaya dan bebas emisi, lalu Nelayan Lestari bergerak di sisi komunitas pesisir, yakni mengenai kapasitas, kepercayaan, dan keberlanjutan.
“Program ini memadukan teknologi hijau dengan praktik nelayan tradisional untuk membantu nelayan mengurangi konsumsi BBM, meningkatkan pendapatan, dan menjaga kesehatan laut,” ucap Wayan Sudra nelayan asal Kelan, Badung, yang biasa mencari ikan di perairan Benoa, Sanur, Manggrove Tahura Ngurah Rai, hingga Nusa Dua.
Sementara itu, kaum perempuan dilibatkan dalam pengolahan hasil tangkapan dan pengelolaan energi surya, sementara pemuda pesisir mendapatkan pelatihan multimedia, teknisi EV, dan kewirausahaan ramah lingkungan. Nelayan di Desa Kelan diajak untuk mengenal inovasi mesin penggerak elektrik ramah lingkungan dari Azura Indonesia.
“Kami gunakan pembangkit listrik tenaga surya dialirkan ke pengisi ulang daya atau charging station, di mana MantaOne menggunakan baterai ion litium. Hemat dipakai berlayar sampai 3 jam untuk jukung ukuran 7-8 meter dan mesin ukuran 5,5 PK. Kalau pakai mesin konvensional harus pakai bensin sampai Rp50 rb, lalu perawatan sebulan Rp100 rb dan biaya lainnya,” imbuh Sudra.
Sementara itu, Nadea mengatakan program dirancang memberdayakan seluruh keluarga nelayan, program ini mendorong nelayan lebih percaya diri menggunakan teknologi baru, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi istri nelayan dan generasi muda.
“Komunitas binaan menunjukan respon positif, banyak nelayan termasuk yang berusia lanjut merasa terbantu dan kembali bersemangat menjalani profesi yang selama ini menjadi tumpuan hidup mereka,” beber Nadea Nabilla, Founder dan Direktur Azura IDN.
Inovasi unggulan Azura IDN, MantaOne, menggantikan mesin berbahan bakar fosil dengan sistem propulsi listrik modular yang dirancang khusus untuk kapal kecil di perairan dekat pantai.
MantaOne berdampak seperti pengurangan biaya operasional sebesar 70% dan pengurangan emisi karbon sebesar 78%. Selain itu, untuk memastikan adopsi yang inklusif, Azura IDN mengembangkan Program Nelayan Lestari yang mengintegrasikan akses teknologi, peningkatan kapasitas, serta praktek penangkapan ikan berkelanjutan.
Program ini membuka akses bagi anggota keluarga nelayan untuk mendapatkan sertifikasi teknisi Electric Vehicle (EV), uji coba marine EV, penyediaan unit awal marine EV, serta mempromosikan metode penangkapan selektif seperti pancing ulur untuk menjaga kesehatan ekosistem laut dan meningkatkan kualitas hasil tangkap nelayan kecil.
Program Nelayan Lestari mulai diimplementasikan sejak Tahun 2024 di Desa Kusamba, Kabupaten Klungkung yang menjadi titik penting bagi pengembangan MantaOne.

Hingga Tahun 2025, sudah terdapat belasan unit MantaOne yang tersebar di beberapa titik wilayah Provinsi Bali, seperti Desa Kelan Kangin (Kabupaten Badung), Desa Kusamba (Kabupaten Klungkung), dan Desa Antiga Kelod (Kabupaten Karangasem).
Sebagai salah satu pusat perikanan skala kecil di Indonesia, Bali menghadapi tantangan yang khas, yakni biaya operasional tinggi akibat penggunaan BBM, ketergantungan pada cuaca, serta degradasi lingkungan pesisir.
Selain itu, faktor usia kerja nelayan kecil di Bali menjadi hambatan lain yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas hasil tangkapan pesisir. Mayoritas usia rata-rata nelayan di Bali ada di rentang 40-65 tahun.
Regenerasi nelayan sangat sulit ditemukan di masyarakat pesisir. Hal ini semakin diperparah dengan hasil tangkapan yang tidak menentu, menjadikan profesi ini tidak begitu diminati oleh kalangan muda.
“Tujuan kami sederhana namun penting yakni membangun masa depan di mana energi bersih mendukung mata pencaharian sekaligus menjaga kesehatan laut,” ujar Nadea.
“Teknologi saja tidak cukup. Komunitas butuh kepercayaan, keahlian, dan rasa memiliki. Karena itu pendekatan kami selalu menggabungkan inovasi dengan pemberdayaan” tambahnya.
Azura IDN menargetkan penggunaan 10.000 unit marine EV di seluruh Indonesia dan berkontribusi pada target nasional penurunan emisi sekaligus meningkatkan stabilitas pendapatan nelayan melalui pengurangan biaya operasional.
Menjelang ekspansi yang lebih luas di tahun 2026, Azura IDN terbuka untuk kolaborasi dengan mitra strategis, investor berdampak, serta koperasi nelayan dalam memperluas elektrifikasi kelautan yang terjangkau di lebih dari 17.000 pulau di tanah air. PBN001/Dewa Kusuma