Pesona Desa Penglipuran, Kabupaten Bangli, memiliki daya tarik wisatawan domestik dan manca negara. Di penghujung Tahun 2025, Desa Penglipuran mempersiapkan diri dengan menata objek wisata rumah tradisional dan pementasan setempat.
Desa Penglipuran sebagai desa yang regeneratif, menjadi ruang temu kebudayaan masa lalu Bali dengan era modern saat ini. Penglipuran bercerita tentang bentuk tradisional rumah, tentang suasana pedesaan masa lalu, hingga tumbuh menjadi desa wisata yang regeneratif. Peneliti sekaligus Antropolog Amerika Serikat, Edward T. Hall, menyebutkan budaya merupakan sebuah komunikasi, dan komunikasi adalah budaya. Jika kebudayaan diartikan sebagai sebuah kompleksitas total dari seluruh pikiran, perasaan, dan perbuatan manusia, maka untuk mendapatkannya dibutuhkan sebuah usaha yang selalu berurusan dengan orang lain.
Kepala Pengelola, Dewi Penglipuran I Wayan Sumiarsa mengamini Desa Penglipuran kerap menerima tamu domestik dan manca negara dari berbagai latar belakang. Mereka melihat seksama dan mempelajari Penglipuran dengan lebih mendalam.
“Kami masih mempertahankan budaya-sosial tradisional di Desa Penglipuran, ekosistem tentang sistem kemasyarakatan yang turun temurun dan menjaga kelestarian leluhur,” ujar Sumiarsa, Sabtu (13/12/2025).
Secara etnografi Desa Penglipuran tidak ada perubahan, namun secara fisik banyak masukan-masukan diterima Sumiarsa, terhadap Penglipuran secara holistik. Penglipuran masih menjaga sistem adat istiadat, pola kemasyarakatan antar banjar dan antar desa.
Semenjak mengenal istilah desa regeneratif, Penglipuran mencoba memahami struktur-struktur kemanusiaan yang turun-temurun, tentu tanpa merusak tradisi atau bangunan fisik sebagai ciri khasnya. Penglipuran juga menjaga benda-benda fisik, tidak saja angkul-angkul di depan rumah mereka, ada rumah bambu, topeng-topeng tua, tata kelakuan, kepercayaan, pandangan, dan wawasan bersifat abstrak yang bersifat tak benda.
“Orang-orang sering berbicara tentang Penglipuran, tentang kebudayaan, arsitektur tradisional, seni pertunjukkan, hingga pola hidup masyarakatnya. Di sisi lain, Penglipuran sebagai DTW memerlukan masukan dan pandangan barunya agar menjadi tumbuh regeneratif, misalnya dari akademisi, tokoh masyarakat, dan lainnya. Kerangka kebudayaan yang sudah tumbuh di Penglipuran ini akan terus dijaga masyarakat, sehingga menjadi potensi wisata yang unggul ke depannya,” terang Sumiarsa.
Penglipuran tidak ingin menutup mata dengan dunia luar, Matsumoto (1996) menilai ada dinamai Etnosntrisme, yakni kecenderungan untuk melihat dunia hanya melalui sudut pandang budaya sendiri.
Di sini Penglipuran terus bertumbuh beregeneratif sebagai desa yang ternama di seluruh dunia. Penglipuran melihat budaya dan sub-culture tumbuh seiring zaman di Bali, tetapi budaya aslinya tetap tumbuh lestari.
Serupa diungkapkan Prof. Nyoman Sunarta dari Fakultas Pariwisata Universitas Udayana, mencoba memahami mendalam Desa Penglipuran tidak hanya sebagai bentuk kepariwisataan. Namun, Penglipuran membawa makna, nilai-nilai, dan norma-norma masyarakat mereka.
“Kebudayaan yang ada di Desa Penglipuran, tidak saja soal aset kebudayaan Bali. Penglipuran memiliki keseniannya tersendiri sebagai ekspresi diri, objek, hingga simbolis. Penglipuran hadir menjadi media pendidikan, sistem religi, sistem pengetahuan masyarakat lokal atau lokal genius, yang tertata sampai sekarang ini. Karena itu, Penglipuran secara fisik wajib dijaga kelestariannya, menjaga bangunan fisik dengan memanfaatkan bambu-bambu alaminya, meregeneratif sumber daya manusianya, adalah wujud melestarikan Penglipuran kini dan masa depan,” tuturnya.
Prof. Sunarta mencermati bangunan dari bambu-bambu yang perlu dilakukan perbaikan, masih perlu ahli-ahli undangi atau tukang dengan keahlian khusus membuat rumah bambu. Di sini perlu dilibatkan generasi muda sebagai SDM regeneratif yang memahami unsur-unsur bambu beserta pelestariannya.
“Bambu yang dipilih dari hutan bambu yang sudah wajar untuk digunakan, bambu dilestarikan untuk meregenerasi bangunan rumah bambu secara bertahap. Perlu dilibatkan generasi mudanya, ini adalah aset ke depan Penglipuran. Mereka generasi muda adalah penerus yang sehari-harinya diedukasi bahwa Penglipuran memiliki makna yang mendalam, hal ini bersifat abstrak dan makna kebudayaan yang melatarbelakangi pelestarian di Penglipuran,” terangnya.
Trisno Nugroho selaku penggiat kebudayaan dan pariwisata di Bali mengatakan kunjungan wisata ke Desa Penglipuran, mengubah cara pandang dari sekadar pariwisata berkelanjutan menuju pariwisata regeneratif.
“Artinya apa? Bukan hanya ‘jangan merusak’, tapi setiap kunjungan wisata justru diusahakan menambah kebaikan: bagi hutan bambu, bagi struktur sosial dan adat desa, UMKM lokal, dan anak-anak muda Penglipuran yang kami libatkan dalam setiap kegiatan. Bukan hanya mempertahankan yang sudah baik, tetapi secara aktif memperbarui dan menguatkan alam, budaya, dan kehidupan sosial,” ucap Trisno yang juga mantan Kepala BI Provinsi Bali ini.
Trisno menekankan Penglipuran sebagai Desa Regeneratif sebagai perjalanan menuju pariwisata berkelanjutan di Bali.
”Ini bukan slogan kosong, tetapi kompas yang kami pakai untuk mengambil keputusan, termasuk saat menyiapkan program akhir tahun: dari Parade Barong Macan, teatrikal ‘Tetantria Macan Gading’, dekorasi bambu tanpa plastik sekali pakai, sampai Bamboo Café yang mengangkat produk lokal,” demikian Trisno. PBN001