Rumah Berdaya Kota Denpasar, menjadi bukti nyata perhatian pemerintah berkolaborasi memberikan perhatian terhadap Orang Dengan Skizofrenia (ODS). Sampai saat ini ODS membutuhkan perhatian serius, kasih sayang, hingga pembangunan mental diri untuk kembali ke masyarakat.
Sejak Rumah Berdaya diresmikan 2016 lalu, banyak perhatian diberikan Dinas Sosial Kota Denpasar bekerja sama dengan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Sanggaran, Bali melalui program Schizophrenia Entrepreneur (Shizopreneur).
Rata-rata ODS dialami generasi muda di atas 17 tahun, tetapi perlu diketahui mereka yang direhabilitasi masih memiliki harapan dan masa depan untuk bermanfat bagi masyarakat di sekitarnya.
Diutarakan ODS, Dewa Angga, awalnya ia mengalami hubungan asmara yang belum berjalan mulus. Ia bercerita sempat merasa kebingungan dan putus asa, padahal masih berstatus pelajar menengah atas.
Tidak semuanya masyarakat menerima ODS, Dewa Angga berjuang didukung kerabat keluarganya. Di Rumah Berdaya, tatapan matanya yang dulu tajam dan penuh emosi, perlahan-lahan mereda menjadi senyuman dan kegembiraan. Ia seolah-olah menemukan kembali martabatnya sebagai sosok pribadi yang tangguh. Ia bangkit berkarya di Rumah Berdaya, menuangkan kreasinya lewat usaha cuci motor.
“Dulu sempat pacaran delapan bulan, sejak saya putus seringkali marah-marah dengan orang tua. Pernah dibawa ke RS Jiwa Bangli, sekarang kondisinya sudah mendingan kondisinya,” ucap Dewa Angga, diwawancarai pada Senin (27/10/2025) ini di Rumah Berdaya di Jalan Raya Sesetan No. 280, Denpasar.
Pria kelahiran 2001 ini menuturkan masih fokus ke karir mencuci motor yang diprakarsai Pertamina Bali, termasuk aktivitas lainnya di Rumah Berdaya.
“Perasaannya senang bisa ikut cuci motor dan bisa mendapatkan penghasilan. Rata-rata sehari mencuci dua sampai tiga motor, itu sudah banyak sekali. Pernah puncaknya ramai saat Hari Raya Tumpek Landep,” katanya.
Dewa Angga asal Klungkung ini menceritakan masuk Rumah Berdaya sejak Tahun 2020 lalu, suka duka telah dialaminya bersama teman-teman lainnya saat melakoni usaha cuci motor. “Di sini kami berenam melakukan usaha cuci motor,” ucapnya.
Senada diutarakan oleh ODS lainnya, I Wayan Nanda Sudiatmika (32) bahwa Skizofrenia dialaminya diperkirakan saat menginjak 25 tahun. Selama mengalami Skizofrenia, konsumsi obat-obat khusus dari dokter menjadi kewajiban.
“Pertama saya didiagnosa (Skizofrenia, red) sempat rawat inap di Tahun 2021, lalu 2025 ini saya diinfus karena tidak ada nafsu makan. Sekarang saya bisa mengontrol diri terhadap orang-orang, bisa stabil, tetapi untuk sembuh belum tahu karena masih mengkonsumsi obat. Banyak faktor disebutkan (Skizofrenia), bisa keturunan atau pola hidup,” ucap Nanda, yang sehari-hari juga sebagai waiter dan barista di Graha Nawasena di Difel Café di Jalan Kamboja Nomor 4 Denpasar serta aktif di Komunitas Bali Bersama Bisa.
Nanda mengatakan kondisi fisiknya saat masih SMK, lalu setelah tamat dilanjutkan bekerja di hotel, tidak mampu menompang lelahnya sehari-hari. Dokter akhirnya mendiagnosa dirinya mengalami Skizofrenia.
“Fisik saya sempat menurun di awal masuk dunia kerja. Saya berpikir fisik saya kuat seperti pelajar SMK yang belajar lalu nongkrong gitu. Saya praktikan saat bekerja, loh saya kok ngak kuat. Saya kerja dengan full fisik di hotel, lalu pulang kerja ingin sekali nongkrong. Tubuh saya merasa seperti lelah banget. Akhirnya dokter saya mendiagnosa mengalami Skizofrenia,” ucapnya.
Nanda sehari-hari tergolong rajin ke Rumah Berdaya, ia mencuci motor sebagai bagian melatih pikiran berpikir positif dan tubuhnya agar tetap sehat. Baginya, aktivitas cuci motor dari Pertamina Sanggaran Bali, bukan saja memberi penghasilan, tetapi mendorong diri agar menjaga kebersihan motor orang lain.
“Dulu saya pernah sakit, sekarang saya tergerak untuk menjadi volunteer, merasa diri ingin membantu orang lain. Saya berusaha bercanda dan berinteraksi dengan teman-teman lainnya, agar mereka ingat mengapa mengalami Skizofrenia. Jadi tahu kalau teman-teman lagi sedih atau marah jangan diganggu. Saya juga mengajak teman-teman termasuk staff di Rumah Berdaya untuk berkomunikasi,” tuturnya.
Menurut Nanda, ketika dirawat di RS Jiwa Bangli, terdapat pengalaman belajar mencuci motor, seperti pula kini di Rumah Berdaya. Jika sepi pelanggan, terkadang motor staff pegawai juga dicuci. Ia akui belajar keteraturan diri, mulai dari kesiapan makan, mandi, pakaian, mental bekerja, dan mental pelayanan.
“Harga mencuci motor besar Rp25.000.,- dan motor kecil Rp20.000., bisa dibayar dengan cash atau QRIS. Saya pribadi menilai manfaat cuci motor ke ODS, adalah menanamkan sifat kalau kita memiliki barang harus kita rawat. Kalau ODS membersihkan motor orang, minimal ODS menjadi tahu rasanya berkeringat, lalu gerah, dan akhirnya rajin mandi. Kita hati-hati dan berkosentrasi teratur mencuci motor. Praktik bekerja dengan pakaian rapi dan ramah tamah dengan tamu yang datang,” ungkap Nanda yang tinggal bersama orang tuanya di Sanur, Denpasar Selatan ini.
Rumah Berdaya Kota Denpasar menerapkan Schizophrenia Entrepreneur (Shizopreneur) sebagai program kewirausahaan dan ekonomi kreatif. Tujuan Shizopreneur mendorong produktifitas dan rehabilitasi psikososial yang berfokus terhadap pengembangan ketrampilan, pemenuhan kebutuhan dasar, hingga pengakuan dari masyarakat.
“Shizopreneur juga mengajak ODS agar produktif, termasuk menghilangkan stigma negatif terhadap seorang ODS,” kata Staff Dinsos Kota Denpasar di Rumah Berdaya, A. Gde Ayu Oka Maharini S, S.Psi.
Ditambahakan Maharini, ODS selain mencuci motor juga didorong mengikuti aktivitas melukis. Salah satunya yang dikenal adalah lukisan I Komang Sudiarta alias Loster asal Gianyar. Ciri estetik lukisannya dengan tema atma (roh hidupan), kelahiran, hingga proses kehidupanm manusia sangat populer. “Salah satu lukisannya dibeli Pak Walikota Denpasar, Jaya Negara, karena keindahan dan memiliki ciri khas menarik. Sekarang Pak Loster sudah melukis di studionya di Gianyar,” tuturnya. PBN001